Senandung Lolombulan
Minggu, 06 Desember 2015
Selasa, 20 Oktober 2015
GEBRAKAN SANGGAR TUMONDEI TAK ADA MATINYA!
(Sebuah
catatan singkat sekitar perayaan hari jadi Sanggar Tumondei ke-3 tahun dan desa
Tondei raya ke-102 tahun.)
Oleh Gloria
Sual*
Status desa
Tondei sebagai ro’ong (kampung) budaya nampaknya akan terus langgeng. Ini
ditunjukkan oleh kreatifitas dari masyarakat terutama para terunanya yang tak
berhenti. Malah secara kualitas dan kuantitas kian menjadi dan membukit. Hal
tersebut terbukti pada 17 Oktober 2015 yang baru lewat. Pada hari Sabtu itu
kelompok pemuda pecinta pelestarian budaya yang terhimpun dalam Sanggar Tumondei Minahasa Selatan
(STMS) kembali menggelar kegiatan pagelaran budaya di gedung Balai Pertemuan
Umum desa Tondei. Kegiatan ini dirangkaikan dengan Hari Jadi STMS ke-3 tahun
dan desa Tondei Raya ke-102 tahun.
Tak hanya
masyarakat Tondei yang hadir. Beberapa komunitas pecinta budaya juga hadir. Di
antaranya: Aliansi Masyarakat Adat
Nusantara (AMAN), KPAB Lolombulan, Pinaesaan Tontemboan (PITON), Sanggar Seni
Tou Pager dari Poigar Minahasa
Selatan,
Mawale Movement, KPAT dan lain-lain. Dalam perhelatan budaya itu
ditampilkan tarian kawasaran dari Tondei
dan Poigar, Permainan rakyat “Mareng i Lele” atau “Marantong”, Drama “Tumani”
yang berkisah tentang pendirian kampung Tondei, Peluncuran dua buku karya Iswan
Sual (kumpulan puisi) dan karya Ferlandi Wongkar (kumpulan puisi dan cerita
pendek).
Dalam
pidato sambutannya, Billy Ompi, sebagai ketua panitia mengatakan, “Pagelaran
budaya ini adalah momen pengingat for torang samua. Mo beking spaya torang nyanda
mo lupa torang pe jatidiri sbagai tou Minahasa. Skarang so banya orang lupa
kalu dia Tou Minahasa. Terutama tu orang-orang muda. Skarang orang Minahasa so
nda berprilaku lagi sbagai tou Minahasa. Adat dorang so lupa. Tu pesan-pesan
orang tua: malo’o-lo’oren, matombo-tombolen, ma’siri-sirian, deng laeng-laeng
dorang so rupa nyanda pake. Pakeang adat dorang so nintau deng so nda suka
pake. Bahasa daerah sandiri dorang
nintau. Malahan gengsi kalu dapa tau orang gunung. Dorang bilang so jadul kata.
Ini cilaka for torang! Nah, tu kegiatan-kegiatan bagini yang mo beking tu
ingatan pa torang pe adat istiadat nyanda mo ilang. Jadi kegiatan ini merupakan
ajakkan for torang samua spaya mo ambe bageang for mo jaga bae-bae tu torang pe
tradisi - torang pe budaya.”
Secara
terpisah, Yanli Sengkey dan Charli Wongkar, yang kini menjabat sebagai Tona’as
Wangko (ketua umum) dan Mapatic (sekretaris) Sanggar Tumondei Minahasa Selatan
2015-2018, mengatakan, “Ini kwa so jadi torang pe kegiatan rutin. Neh, tiap
taun torang ja beking. Torang pe banya tu kesibukan. Karna torang ada yang
mahasiswa, siswa, petani deng laeng-laeng. Mar, torang pe Sanggar berusaha for berkarya.
Walaupun tagepe deng banya kesibukan masing-masing. Karna ini demi generasi
brikut. Spaya kitiare nanti dorang nda mo tanya ‘Apa jo re’e tu orang-orang tua
da beking?, Kyapa torang pe dotu-dotu nda berkarya?, Kyapa torang pe
orang-orang tua kasebiar tu budaya Minahasa ilang?’.”
| Pementasan Drama "Tumani" Tondei |
Kehadiran dalam
kegiatan ini cukup signifikan. Kurang lebih tiga ratus orang dewasa. Mayoritas yang
hadir dari luar desa. Mungkin karena bertepatan juga ada acara besar di
kampung: acara pesta kawin dan peletakan batu pertama gedung ibadah. Namun
demikian kegiatan tetap terlihat meriah dan bahkan sangat ramai dengan khalayak.
Apalagi pada saat makan siang berlangsung. Orang-orang berdiskusi tentang
budaya sambil menikmat hidangan khas Minahasa: nasi kaboro, ubi santang, sayor
tina’pe, rangsak, ikang kodo dan permainan kalie’ yang diperagakan anak-anak.
Tambah lagi disuguhkan juga minuman khas Minahasa, yaitu saguer. Ini mencipta
suasana sederhana namun bernilai besar bagi generasi sesudah kita. Karena yang
terpenting adalah pewarisan nilai-nilai positif dan bermakna.
Acara ini
mendapat sambutan luar biasa dari beberapa akademisi, budayawan dan sastrawan Minahasa
di Sulut. Di antaranya yang hadir adalah Fredi Wowor, Rivo Gosal, Denni
Pinontoan, Sofyan Yosadi, Pdt. Middle Onibala, Chandra Ro’oroh dan Rikson
Karundeng. Dalam pidato kebudayaan mereka, mereka secara bersama mendukung
kegiatan yang digelar oleh Sanggar Tumondei. Bahkan mereka menyatakan kekaguman-kekaguman
yang menggembirakan dan memberi inspirasi dan motivasi.
“Orang-orang
Tondei mungkin nda banya yang tau. Mar, di luar sana, aktifitas ato ajang
seni-budaya yang dilakukan oleh kawan-kawan di Tondei, diketahui luas. Kegiatan
ini ramai dibicarakan di dunia maya bahkan di diskusi-diskusi para budayawan,
seniman, sastra di Tomohon pada beberapa hari lalu. Ini luar biasa. Apalagi ada
kegiatan peluncuran buku,” tandas Rikson Karundeng tatkala didaulat oleh
panitia pelaksana untuk memberikan pidato sambutan mewakili Media Sulut. Ferlandi
Wongkar yang adalah salah satu anggota Sanggar dalam sesi peluncuran buku di
acara itu mengatakan, “Kami merasa senang dan bangga. Senang karena Sanggar
Tumondei memfasilitasi peluncuran buku saya. Saya merasa bangga karena banyak
teman-teman dari komunitas-komunitas lain yang menyaksikan kerja-kerja
kebudayaan kami. Ini ja beking tatamba smangat pa torang for mo bakarya trus.
Ini beking kita lebe smangat lei mo batulis.”
Setelah
acara indoor selesai dilaksanakan
seluruh peserta pun bergerak mengarah ke situs budaya Watu Lesung Lutau. Ini juga sudah menjadi tradisi Sanggar Tumondei
setiap selesai acara besar digelar. Karena berkunjung ke situs-situs budaya
adalah juga bagian dari pemberian pelajaran kepada generasi muda tentang
karya-karya para leluhur yang begitu luar biasa. Berziarah ke situs-situs
budaya adalah wajib sebagai tou Minahasa. Karena berziarah sama dengan
memperpanjang ingatan sejarah Minahasa itu sendiri.
* Penulis adalah siswi SMK Negeri 1 Motoling Barat di Tondei.
Selasa, 03 Maret 2015
Kamis, 15 Januari 2015
KOLEKSI FOTO PAKAIAN ADAT SANGGAR TUMONDEI
SEJARAH Kerukunan Siswa Mahasiswa Tondei (KSMT)
oleh Iswan Sual
“Ro’ong ami ro’ong makangarang Tondei. Ro’ong e cami anune’d in talun. Mande ing keleitu pa’lelon e cami i maka ro’ong. Mande kuntung wong koso mento’ lelon e cami i maka ro’ong Tondei. Sapang kasalean tantu ka erean, winongos won tu’tu. Asal metutu. Pros, ulang, pipising, kawok, kalowatang menggi-gioan. Agama ya mepanga. Mento ke makanganga. Kerean karu waya”.
Yang berarti:
[Kampung kami, kampung yang bernama Tondei. Kampung kami ada di tengah hutan. Kendati begitu, dirindui kami yang empunya kampung. Meskipun bergunung dan berjurang tetap kami rindui. Apapun yang kami sukai tentu kami peroleh. Winongos dan nasi. Asal bertekun. Belut, udang, udang kecil, tikus, babi hutan. Agama ya bercabang. Tak berbuat apa. Semua diperoleh]. oleh: Izaak Djajus Umboh Rawung (Mantan Guru Jemaat GMIM Imanuel Tondei sekaligus Kepala SD GMIM Tondei)
-------
Di bulan Desember tahun 2002 hampir seluruh mahasiswa yang beragama Kristen disibukkan dengan acara-acara berkenaan dengan perayaan kelahiran seorang Mesias, Yesus Kristus. Hampir semua organisasi mahasiswa, baik di dalam maupun di luar, kampus menyelenggarakan ibadah pranatal. Kreasi dipertontonkan dalam ibadah tersebut sehingga dirasa menarik oleh para mahasiswa. Sebagian mahasiswa yang berasal dari Tondei juga melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Muncullah keinginan untuk membawa hasil kreatifitas tersebut ke kampung halaman. Namun, sayangnya tak ada lembaga atau wadah mahasiswa pada waktu itu untuk menampung dan meyalurkan aspirasi mereka.
Atas usul saudara Moses Legi, S.Pd, maka dibentuklah panitia perayaan natal mahasiswa Tondano. Awalnya ini hanya dimaksudkan untuk mahasiswa GMIM saja. Namun, setelah dilakukan kajian yang mendalam, maka diputuskan dalam rapat perdana bahwa hendaknya perayaan ini melibatkan semua mahasiswa dan siswa Tondei dari berbagai denominasi gereja. Tambah lagi, waktu itu tidak banyak mahasiswa yang berasal dari Tondei. Tidak sampai 10 jumlahnya.
Dalam rapat perdana itu juga diputuskan Vivi Merentek dan Iswan Sual sebagai masing-masing ketua dan sekretaris panitia perayaan natal Yesus Kristus 2002. Dalam rapat itu hadir, Vivi Merentek, Iswan Sual, Frangky Lumapow, Jendra Langi, Hari Wowor, Herdi Lumowa, Living Pondaag dan Harold Mantik. Harold Mantik diberikan tugas untuk merancang model stempel panitia. Desain stempel itulah yang nantinya menjadi logo KSMT. Semua yang hadir dalam rapat itu mendapat tugas untuk menghubungi seluruh mahasiswa dan siswa diberbagai tempat dan memberi tahu mereka mengenai rencana pelaksanaan perayaan natal siswa mahasiswa di Tondei.
Dengan persiapan yang matang akhirnya dilaksanakanlah ibadah perayaan natal itu di gedung GMIM Imanuel Tondei yang terletak di desa Tondei Dua sekarang. Perayaan natal siswa mahasiswa membawa hal-hal baru bagi jemaat Tondei. Diantaranya: ditampilkan skit (drama singkat), tarian dan dilakukan oleh kaum pelajar dari berbagai golongan gereja.
Setelah acara itu selesai, maka diadakanlah rapat untuk membahas tentang pendirian organisasi siswa mahasiswa. Sebab, kami menyadari pada waktu itu bahwa panitia yang terbentuk pada waktu itu adalah organisasi temporal (umurnya hanya beberapa bulan). Dalam rapat itu diputuskan untuk membentuk wadah berkumpulnya siswa mahasiswa Tondei pada 3 Januari 2003. Pada hari yang ketiga di bulan Januari itu terpilihlah Frangky Lumapow dan Iswan Sual, masing-masing, secara berturut sebagai ketua dan sekretaris organisasi yang diberi nama Kerukunan Siswa Mahasiswa Tondei. Dalam Musyawarah pertama itu disepakati untuk membentuk rayon-rayon untuk mempermudah jangkauan organisasi. Rayon-rayon yang terbentuk adalah rayon Motoling, rayon Amurang, rayon Manado dan rayon Tondano Tomohon.
Berikut ini adalah ketua dan sekretaris serta bendahara Kerukunan Siswa Mahasiswa Tondei dari tahun 2003 sampai sekarang.
------
timeline/garis waktu organisasi
-----
NO. NAMA PERIODE KETERANGAN
Ketua Sekretaris Bendahara
1 Frangky Lumapow, Iswan Sual, Hanna Limpele, 2003-2004
2 Iswan Sual, Jendra Langi, Swity Merentek, 2004-2005
3 Marcel Lumapow, Yervi Tamba, 2005-2006
4 Esra Tambaani, Glendiks Paat 2006-2007
5 Hesky Kumayas 2007-2008
6 Syuli Sondakh, 2008 Tidak menyelesaikan periode
7 Edon Kawengian, 2008-2009 Caretaker
8 Fipy Sondakh, Monalisa Wongkar, Della Palapa, 2009-2010
9 Heydi P. Lumowa, Clieff Sumangkut, Tiffany Sumangkut, 2010-2011
10. Clieff Sumangkut, Della C. Palapa, Yerfi Tamba 2012-2013
11. Tiffany Sumangkut 2013-2014
12. Vicky Aiba, Risky Tambani (2014-2015)
13. ......?
Catatan:
Uraian ini dibuat untuk memuaskan dahaga keingintahuan orang (baca: siswa mahasiswa) Tondei yang cinta dengan desa Tondei.
Kurangnya komunikasi di antara kita memungkinkan adanya sedikit kekeliruan dalam uraian sejarah KSMT yang saya buat ini. Untuk itu, mohon tanggapan dan kritik demi perbaikannya. Maju desaku Tondei Raya!
Langganan:
Komentar (Atom)












