Senin, 14 April 2014

INDONESIAN IDOL


Oleh Iswan Sual*


Alo Langkay  : La….la…la….la…la…..laaaaaaaaaaaaaa! (Ma’kantar……suara rangka’).
                         (la….la…la….la…la…..laaaaaaaaaaaaaa! (manyanyi ……suara tinggi).

Alo Timporok            : O kakaya’ka’ang! Tabea! Te kindo’o si Alo’ anio. Sama’ em pakakantar. Ro’na ku’a re’e muntep Indonesian Idol…
                        (O tanda heran! Selamat Pagi! Mato’ dang ni Alo ini. Bagus tu manyanyi e. Bole kote mo maso Indonesian Idol).                   

Alo Langkay:Wehhh…Tabea e Alo….hehehehehe…..kinarikiangem tare….. Kele si’i ke’ em pakakantareku e….muntep kindo’o Indonesian Dodol eeeee Idol…e sese’. Mapalawi-lawi’ ke’. O tare wakileng se tou malinga.
                        (We…Tabea e Alo….heheheheheheh……so dapariki tare….Cuma bagini tu manyanyi, kong mo iko Tombasian Dodol eeeee Indonesian Idol….e sese’. Cuma mo beking malu. Kong tu ja badengar lempar tare’.)

Alo Timporok:  Ihhhhh kityu re’e makua ke’ keleystyu.  Ma’inde’ ke’ ona’ re’e Alo?  Cawana torona re’e tuama. He….tuama Minahasa ko e! ituru’ ase penonton….sa cita sama’ wo lo’or em pakakantar. Dirly…keila’ nu sia na? Ampa’pa’ sia sama’ em pakakantar, ane nikemepi  kitiare si Agnes Monika…mangala’ung semasu-pasung am banua ta.
                        (Ihhhhh kyapa dang Cuma ja bilang bagitu. Tako so Alo? Nyanda guna ngana laki-laki.
Peluncuran buku kumpulan Cerpen "Echange Epaul Contre Bonbons" Karya Iswan Sual
He….laki-laki Minahasa ngana e! Kase tunjung pa penonton…..kalu torang gaga deng bagus ja manyanyi. Dirly….ngana tau to dia? Lantaran dia gaga ja manyanyi, ne dia da rasa kitiare tu Agnes Monika….cewe’ pasung skali di torang pe negara.)

Alo Langkay  : Raica ma’inde’ iaku e Ito’! Ta’ang keila’angku sapa eng sama’ em papaturu’ em papalingang ase tou wo sapam si rai’ca. En to Alo? Siitu en lo’or! Sa mengat mangala’ung pasung, aweang kitiare ando’ong. Eng ngarana Bella. Patowa’ang ku Ineng Bella. Sa si Agnes Monica ke’ ya’na, Bella em pasung wo keter. Wo makeila’ ki’i ma’tawoi anuma….sa si Agnes….peh!
                        (Nda tako kitia e Ito’. Mar, kitia sadar apa tu gaga mo kase tunjung deng mo kase dengar pa orang deng apa tu nyanda. Iyo to Alo? Itu tu gaga! Kalu mo cari cewe’ gaga, ada kitiare di kampung. Depe nama Bella. Kitia ja pangge Ineng Bella. Kalu cuma Agnes Monica, Bella tu pasung deng kuat. Kong tau karja di kobong. Kalu tu Agnes….peh!

Alo Timporok: Ane, ca ki’im nu kindo’o si Agnes? Si Bella ke’ e na?
                        (Ne, ngana nyanda suka dang tu Agnes? Bella jo dang?)

Alo Langkay  : Masale’ mbo’o ya Alo. Ta’ang, em problem ku’a, rai’ca ki’im na iaku hahahahahah….seisia si masale’ si tou en tatawoina ma’kopra wo ma’ke’et ke’ e? Sa ona’ si Ineng Bella, casale’ ke’ ona’ na iaku inci?
                        (Suka wo’o ya Alo. Mar, depe masala kwa, dia nda suka pa kitia..hahahahhhaha…sapa tu mo suka pa orang yang depe kerja cuma bakopra deng batifar e? Kalu ona’ Ineng Bella, dia jo ona’ suka kitia kang?)

Alo Timporok            : E ceru’! Pe niwuei e ku sa sia masale’ a ico. Ta’ang sa pakasereng ku, ca ki’im na ona’.
                        (Nda tau e! Kitia blum tanya kalu dia suka pa ngana. Mar, kalu kitia mo lia, dia ona’ nda suka no.)

Alo Langkay  : Ha…..kityu na Alo? Rai’ca wana amo ona’ re’e aku? Aweang kitiare e! Ka’apa, ampa’pa’ ca rangka’?
                        (Ha….kyapa dang Alo? Nyanda ada muka kitia? Ado jo e! Ato nyanda tinggi?)

Alo Timporok: Rai’ca kine wana oto. Sedang motor tekek ke’ cawana…..hahahahahah….
                        (Nyanda ada kata oto. Sedangkan Cuma motor kacili kata nyanda ada..hahahahah.)

Alo Langkay  : O wolai! Se kelestyu, muntep ke’ Indonesian Dodol iaku, aneiitu pesungkul e ku si Amos Maringka e acasea’ ke’ Agnes Monica re’e…….
                        (O yakis! Kalu bagitu, momaso Tonsea Dodol…e… Indonesian Idol kitia, spaya kitia mo bakudapa tu Amos Maringka e so salah e…Agnes Monica re’e….)
---------------------------------------------------
Ito=Alo (Panggilan sayang2 for orang Tontemboan)
*Tu panderuk ato penulis adalah cerpenis, penyair, sastrawan, budayawan deng penggerak di Sanggar “TUMONDEI” Minahasa Selatan. Depe  novel, cerpen2 deng puisi2 so beking buku kong salalu ja kaluar di koran2 lokal (Media Sulut deng SwaraKita). Depe kumpulan cerpen “Permen untuk Bahu” so kase saleng deng terbit di bahasa Prancis taun 2012.

Kamis, 10 April 2014

REKLAMASI




Oleh Iswan Sual




Belumlah lama kami berada di kota ini serasa kulit nyaris terbakar. Kota ini tak punya barang sepohon untuk kami jadikan tempat berteduh. Padahal tahun 2009 kota ini menggelar hajatan internasional membahas isu-isu lingkungan hidup. Kawasan yang namanya mengabadikan peristiwa kemerdekaan negara ini tak sedikitpun memerdekakan kami dari sengatan matahari. Manusia bisa membuat neraka baginya sendiri dengan kelengahan dan pengabaiannya.
“Sayang, torang pigi di mall kwa e,” kata Della dengan raut muka masam tak karuan. Wajahnya belepotan dengan keringat. Tas plastik berat yang dia jinjing kian menambah penderitaannya. Namun, dia enggan meminta pertolonganku. Sesuatu yang unik dari perempuan ini. Seperti perempuan Amerika dan Jepang yang begitu independen. Tak mau bergantung pada orang lain selagi sesuatu itu dapat dilakukan sendiri. Aku beruntung.
“Mo pigi apa disana? Nyanda ada doi mo. Cuma mo beking siksa jo.”
Kalimat bernada sedikit kasar itu terlempar begitu saja kepada seorang wanita yang baru saja kuperistri bulan lalu. Kasihan dia. Kata-kata yang tak sepatutnya melesat cepat kena pada sasaran yang tak tepat.
“Nyanda e sayang. Mo pigi situ bukang mo babli. Kita so rasa kincing,” rasa berdosa bertambah ketika dengan lembut istriku mengutarakan alasan maksud kepergian kami kesana.
Dalam diam aku berjanji pada diri sendiri untuk tak lagi troa, gegabah, menanggapi setiap kata yang terucap dari bibirnya. Sangat tidak adil bukan bila gara-gara kemalasan untuk mendengar dengan sabar, akhirnya perempuan yang nantinya menjadi ibu anak-anakku ini menjadi sasaran reaksi cerobohku?
Untuk menebus kesalahanku, kurebut tas plastik berat dari tangannya untuk kubawa. Meskipun aku sendiri sedang memikul dua dos berisi peralatan rumah tangga yang sebagian besar bahannya terbuat dari logam. Kami membelinya di pasar Ampalima. Langkah tergesa-gesa mengantar kami ke gedung megah berlantai empat dengan cat mayoritas coklat tua dan coklat mudah. Berbagai papan besar bertuliskan huruf besar pula memenuhi bagian atas depannya. Tujuan kami adalah toilet lantai dua. Sayangnya, toilet lantai dua penuh sesak. Kami pun bergegas naik lift ke lantai tiga. Juga penuh sesak. Sampailah kami di lantai empat. Syukur. Di situ istri saya membuang isi kantong keminya dengan bebas.
“Ah! Plong sudah.”
Setelah istriku selesai dengan urusan buang airnya, kuajak dia menuju ruang lapang bernama Amazone. Ruang lapang ini, walau gaduh, banyak orang kelihatan gembira. Dinding warna-warni membuat suasana hati syahdu. Ternyata banyak yang palsu dalam ruangan itu. Lumut yang merayap di dinding hingga langit-langit adalah palsu. Dengan langkah pelan kami menelusuri satu per satu setiap titik dan sudut ruangan. Merasa lelah, kuajak istriku duduk pada bangku berbentuk binatang air. Kepala kami tetap bergerak kekiri dan kekanan melihat aneka permainan yang dioperasikan para pengunjung setelah memasukan koin berwarna abu-abu bertuliskan Amazone. Sontak, tiga anak kumal berlari masuk. Sungguh kontras. Anak-anak itu secara bergantian mencoba semua permainan yang kosong. Pertama mereka mulai mengendarai sepeda motor balap. Selanjutnya mobil balap. Mereka berlagak bermain betulan walaupun tak memasukan koin. Semua game dicoba. Dance floor. Drum station. Motor raid. Downhill bikers. Komidi putar.  Jackpot. Ridge racer. Bowling.Top tiger. Police car. Boxing. Punch Ball. Kereta. Ocean blue. Alangkah beruntungnya orang-orang kaya. Berbagai jenis permainan siap memanjakan mereka. Terpaut jauh dengan kami dulu. Permainnya itu itu saja. Lulutau, kuda kayu, kalie, senjata skiping, plinggir, toktok, lantaka.
Anak-anak kumal ini pasti bukan anak orang kaya. Mereka adalah anak-anak pesisir pantai kota Manado. Bapak-bapak terpaksa menjadi penganggur setelah pantai direklamasi atas restu pemerintah daerah. Ya ialah. Tentu atas restu pemerintah daerah. Dengan demikian, berarti mereka juga punya andil merenggut pantai dari para nelayan. Mereka juga yang menjadi biang keladi sehingga anak-anak gadis nelayan menjadi gadis panggilan. Menjual diri. Padahal dulu mereka sering membantu ibu mereka menjajakan ikan hasil tangkapan bapaknya di pasar Ampalima dan Calaca. Pemerintah juga yang menjadi biang kerok hingga anak-anak lelaki para nelayan banyak yang berprofesi sebagai doger-pencuri anjing.
Badan yang gerah karena keringat kini terasa adem dan sejuk. Mataku mencuri-curi pandang pada setiap gadis, mungkin lainnya sudah bukan gadis, dengan celana supermini yang mondar-mandir. Istriku tak sedikitpun cemburu. Barangkali dia yakin itu tak sertamerta akan membuatku menjadi seorang tukang selingkuh. Bisa saja, buat dia bisa saja hal itu bagaikan sebuah iklan saja di sela-sela film panjang. Hanya sebuah intermezo. Dia tahu betul bahwa dia akan tetap menjadi primadona ketika kami kembali ke rumah nanti. Gadis-gadis dengan pakaian ketat dan celana super mini hanyalah appetizer, pembangkit nafsu makan. Atau bisa saja gadis berpakaian minim dianggapnya hanya sebagai pemeran figuran dalam kisah cinta kami yang sempurna. Laksana cinta sejati Toar dan Lumimuut. Atau Pingkan dan Matindas.

Juni 2012

BUDEL




Oleh Iswan Sual




Ari dan Soni datang ke rumah dalam keadaan  setengah sadar. Badan mereka kini berbau alkohol. Walau malam sudah sangat larut ibu dan ayah bangun dan membukakan pintu untuk mereka. Mereka berbicara dengan kata-kata yang samar dan terkesan ngawur. Namun, intinya adalah meminta (mendesak) agar mereka dibolehkan untuk ikutserta memetik buah cengkeh di kebun milik ayah. Penolakan atau larangan tak muncul dalam pikiran. Apalagi keluar lewat ujaran. Ayah menyarankan agar kedua kakak tiri saya itu segera tidur berhubung keadaan mereka sudah tidak memungkinkan terjadi pembicaraan yang terarah dan sehat. Mendadak mereka marah pada ayah dan melemparkan kata-kata tak pantas dan keliru. Memang bukan baru tahun ini saja mereka datang dalam keadaan teler sambil mengancam supaya ayah memberikan hak mereka sesuai dengan perjanjian ketika ayah bercerai dengan ibu mereka. Waktu itu mereka masih berumur lima dan tujuh tahun. Sedih aku membayangkan nasib mereka menjadi bingung dan terlantar.
“Ayah, diijinkan atau tidak besok kami akan memetik.”
“Iya…siapa bilang tidak boleh. Jangan dulu besok. Buah belum bisa dipanen. Tunggulah barang seminggu lagi,” dengan lembut ayah bertutur.
“Ayah sangat tidak adil! Ayah tidak mau mengerti keadaan kami. Hidup kami sudah siksa di Manado. Kami butuh uang untuk menyekolahkan anak-anak kami,” Ari meracau dengan tangisan menggema ke sekitar. Terdengar suara ribut anjing menyalak. Mereka mengira telah pecah perang dunia ketiga.
“Iya ayah memang tidak adil. Wailan terus yang diperhatikan dan disayang. Kenapa sih ayah tetap membeli dia sepeda motor. Kenapa ayah tak membiarkan dia sendiri yang mencari uang untuk keperluannya. Diakan sarjana. Dia…ini memang tak tahu diuntung. Bukannya cari kerja, malah nganggur di kampung dan tiap hari makan tidur saja,” Soni yang tidak terlalu terpengaruh dengan minuman keras terdengar lantang bersuara menyampaikan unek-uneknya. Aku di kamar terpukul. Satu per satu air mata menitik membasahi bantal di mana kepalaku bersandar. Bisa saja aku keluar dan membela diriku atas apa yang barusan Soni katakan. Tapi itu tak akan menyelesaikan masalah, pikirku. Justru, bisa timbul perang saudara di tengah malam buta. Aku hanya bisa bergumam. Menjelaskan pada diriku sendiri bahwa semua yang disangkakan tidaklah benar. Aku sama sekali tidak pernah memaksa ayah membeli sepeda motor untuk kepentinganku pribadi. Juga, aku tidak makan dan tidur, nganggur dan mencukur harta orang tua pelan-pelan setiap hari. Kepulanganku di kampung atas dasar ingin dekat dengan orang tua dan ingin mengabdi dalam dunia pendidikan bahkan gereja. Aku mengajar di dua sekolah. Aku juga aktif melayani di komisi pemuda.
***
Malu karena semalam keluarga kami menciptakan keributan, ayah dan ibu mengajak aku ke kebun. Kebetulan hari libur. Hari raya Idul Adha. Hari yang memperingati pembuktian Abraham akan imannya kepada Tuhan dengan cara hendak mengorbankan Ismail (bagi umat Kristen dan Yahudi: Ishak. Bukan Ismael) di bukit Moria. Matahari belum nampak ketika kami bergegas menuju lahan perkebunan yang dinamakan Mesel. Kami tiba di kebun menjelang pukul sembilan. Kami tidak langsung bekerja. Biasanya dimulai dengan membuat api di gubuk untuk memasak air dan sayur. Kadang-kadang juga ubi atau pisang.
“Ayah, saya menyimak percakapan ayah dengan kakak tadi malam. Sudah bertahun-tahun itu terjadi berulang kali. Kalian beradu mulut soal sebidang tanah yang mereka akui sebagai mahar untuk ibu mereka. Itulah yang membuat mereka getol…,”
“Cukup! Kamu rupa-rupanya ikut membela…. Asal kamu tahu ya….orang tua saya tidak pernah memberikan tanah itu sebagai mahar kepada ibu mereka. Itu hanya cerita angin yang terus didengungkan oleh kakek mereka!” suara ayah meninggi.
Belum tersampaikan maksud tapi keberanianku telah dicabut. Aku mengalihkan pembicaraan ke hal-hal lain yang tak berguna tapi penting. Ranting yang kupatahkan kugores-goreskan di tanah untuk menuliskan sesuatu yang belum kutahu. Ya, itu hanya sebuah wujud pengalihan emosi. Seperti seorang anak yang menggaruk-garuk kepala bila ditanya guru kenapa tidak membuat PR.
Ibu hingga kini tak mencampuri  perbincangan dua lelaki beda di umur di hadapannya. Bukan tak peduli. Bukan cuek. Dia hanya hati-hati. Karena situasi mulai memanas. Takut terjadi kekeliruan dan kesalahpahaman.
“Begini ya, bukan maksudku menyalahkan ayah atau membela kakak. Tapi, aku juga punya hati. Aku mencoba menempatkan diriku sebagai mereka yang pernah terlantar semasa kecil dan hidup susah di kota Manado yang sudah semakin materialistis. Dan yang akan aku katakan bukan mendesak ayah agar mengijinkan atau tidak mengijinkan. Yang akan kukatakan lain tapi berkaitan. Saya mengusulkan agar ayah membicarakan bersama dengan semua anak soal warisan. Sebaiknya warisan itu segera ditetapkan ini untuk siapa dan itu untuk siapa,” kataku dengan pilihan kata yang terlalu hati-hati agar dimengerti.
“Saya punya hak untuk memberi atau tidak memberi. Lagipula, kenapa bicara soal warisan. Saya belum mati. Saya berhak menikmati yang saya tanam sendiri…. Selagi saya hidup saya yang menguasai. Kalian, anak-anak tidak perlu masuk campur!”
Semua usahaku untuk meyakinkan dengan pilihan kata yang sesuai dengan teori komunikasi tidak mempan di telinga ayah. Tanggapan yang aku harapkan bukan itu yang datang. Malah, bertolak belakang.
“Maksud saya begini yah, saya bukanya menuntut supaya harta warisan yang merupakan bagian kami diserahkan sekarang. Bukan. Bukan itu maksud saya. Yang saya maksud, kepada kami, secara bersama, ayah sudah harus menyampaikan bagian kami masing-masing. Supaya suatu saat nanti, bila ayah sudah tiada, kami tak perlu lagi berebut. Sebaliknya, kamu sudah tahu mana punya kami dan mana punya saudara kami. Yang saya maksud baik, yah.”
Ibu turut menambahkan argumentasi mendukung ikhtiar saya. Namun, ayah merasa dia ditekan dari berbagai arah dan terdesak. Terpojok. Naluri hewaninya muncul. Naluri untuk membela diri. Defensif.
Memang susah bicara dengan ayah. Kepintaran dan kebijaksanaan orang lain banyak ditanggapinya sebagai sesuatu yang mengacam kredibilitasnya sebagai seorang ayah.
“Saya hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kami. Pada ibu. Mereka anak-anak dari istri pertama. Dan aku adalah anak dari istri kedua. Apa ayah tidak mendengar kata-kata mereka semalam? Ada maksud mereka hendak memperlakukan kami dengan buruk suatu saat. Jadi, sebagai jaga-jaga marilah dari sekarang dibiasakan segala  sesuatu yang meyangkut banyak orang itu dibicarakan bersama.”
“Kamu tak usah risau dengan itu. Kalau aku sudah tiada, anak tertualah yang akan menggantikan aku. Jadi, nanti Soni yang akan mengatur semuanya.”
Kupejamkan mata selama dua puluh detik. Menahan linangan air yang siap membanjiri pipi. Aku mengutuki diriku sendiri yang tak berhasil membuat keadaan menjadi lebih baik. Justru kebalikan. Bagiku pemikirannya sangat tak bijak. Dia seperti meninggalkan peda, pedang di antara kami anak-anak. Buka aku berprasangka buruk kepada kakak-kakakku. Hanya saja, kejadian tadi malam seharusnya menjadi pelajaran bagi ayah bahwa usulanku benar. Tapi mengapa susah sekali ayah mengerti maksudku. Dia malah berpikir bahwa aku sedang menuntut warisan darinya. Soe skali kita ini. Sial benar nasibku. Mungkin aku harus banyak belajar lagi bagaimana berkomunikasi dengan baik agar atau dapat meyakinkan ayah suatu saat nanti. Atau, diam saja itu sudah cukup? Ah entahlah. Yang pasti aku sakit hati sekarang ini.
Setelah hampir lima menit terjadi keheningan di gubuk, aku berdiri dan melangkah kedepan. Tanpa menoleh kebelakang sedikit pun. Di kejauhan terdengar diskusi antara ibu dan ayah dimulai lagi. Tapi aku sudah tak perduli. Dari kejauhan terlihat bentangan laut luas. Langit di atas kepala sedikit cemberut. Senyum birunya tak ditunjukkannya. Kalau air mataku ini mengalir terus hingga sehari saja, mungkin bisa mencapai laut di depan pandangan mata yang telah menjadi sumber air yang deras.

29 Juli 2012

TOAR DAN LUMIMUUT BERJUALAN KACANG DI SINGAPURA




Oleh Iswan Sual




Della, pacarku, mengusulkan supaya kami mampir sebentar di sebuah toko agar dia bisa membeli sesuatu untuk temannya yang sedang menunggu di kosnya. Usulan itu tak aku tampik karena memang aku ingin jalan-jalan lagi ke area pertokoan itu. Pasar swalayan itu adalah pasar modern yang sangat besar. Dulunya kawasan itu begitu terkenal sehingga orang kampung di pelosok manapun di Minahasa tahu dengan itu. Sampai-sampai ada teka-teki lucu yang bunyinya begini, “Ada berapa matahari di Manado Alo?” “Satu,” jawab Alo. Dengan cepat penanya bilang bahwa jawaban Alo keliru. “Salah Alo!” Matahari yang dimaksud penanya adalah nama toko swalayan terbesar di Manado. Memang baru saja berdiri Mega Mall. Di situ  ada juga Matahari. Penanya ingin mengetes apakah Alo tahu dengan perkembangan baru itu. Maklum, Alo yang kesehariannya sebagai magula, jarang pergi  ke Manado. Si Alo salah juga memahami pertanyaan yang dilontarkan itu. Dia menganggap matahari yang dimaksud penanya adalah secara harafia. Dia dengan setengah berteriak bilang, “Ado kasiang ngana Yus, sedangkan cuma satu matahari, ngana lia kamari kita pe kuli so sama deng panta blanga. Apalagi dua!”
Sekarang gedung banyak tingkat itu tak lagi menjual barang. Melainkan jasa. Telah menjadi laiknya surya  yang memberi penerangan kepada orang yang masuk dalam gelap sakit. Tapi namanya bukan lagi Matahari. Sudah berupa menjadi Siloam Hospitals. Rumah Sakit Siloam. Begitulah bunyinya dalam bahasa Indonesia.
Tujuan kami saat ini bukan ke situ. Pacarku membawaku ke Singapura. Sebuah toko yang menjual bermacam-macam kue basah. Tak jauh dari rumah sakit baru itu. Kami berjalan ke arah pasar 45. Dalam perjalanan aku memperhatikan sekeliling. Berharap mendapat inspirasi untuk novel yang sementara aku tulis.
Aku tergugah melihat pemandangan yang membuatku seperti mengalami Dejavu. Aku melihat sendiri Toar  dan Lumimuut baru bertemu dan menyamakan kedua tongkat mereka. Tampak memang tongkat mereka sudah tak sama panjang. Mereka boleh menikah. Toar yang dewasa tampak semakin gagah. Lumimuut yang awet muda buat Toar terperangah.
Rasa penasaran membuat aku keluar lagi dari toko itu. Bau aneka kue basah yang harum dan menggoda selera tak bisa menyaingi rasa penasaranku untuk kembali melihat dua orang yang adalah leluhur orang Minahasa itu. Saat aku keluar terdengar Toar dan Lumimuut bercakap mesra. Mungkin sedang membahas keturunan mereka, makatelu pitu yang kawin campur dengan Makarua Siow. Aku mendekat. Nekat. Memastikan apa yang sedang kulihat.
“So brapa ngana pe kacang da laku?” tanya Toar. Tangan kirinya memegang se kotak halua. Sedang tangan kanannya mengusap-usap tongkat berwarna abu-abu.
“Mana mo laku ni kacang tore ini. Torang sala tampa ini sto no. Co ngana bobow, pe sadap skali tu kukis di dalam no. Nda ada orang Manado mo makang kacang tore atau halua kete di saman sekarang. Asi ngana tahu bagimana orang Manado sekarang pe gengsi,” kata Lumimuut.
Sudah lama rupanya dua  orang tunanetra ini berdiri di depan toko kue itu. Nasib mempertemukan  mereka. Toar tampak begitu rapih. Gayanya seperti seorang dosen. Sedangkan Lumimuut mirip keke yang dikirim ke Taiwan atau Singapura. Busananya santai. Potongan rambutnya yang pendek ditambah celananya yang juga pendek semakin mengukuhkan kemiripannya dengan seorang TKW yang baru saja pulang membawa dolar.
“Halua! Halua…halua kacang!” teriak lelaki tunanetra itu lantang. Si perempuan tunanetra diam saja.
Mungkin pemilik toko kue basah itu terusik. Seorang cleaning service keluar dengan sapu. Sungguh tak sopan dia. Sudah tahu ada orang, lalu dia tetap mau bersih-bersih. Mubazir. Tak ada guna menyapu pada lantai yang dilewati tak hentinya oleh orang yang lalu lalang di depannya. Aku berdiri saja di depan toko walaupun tahu dia akan menyapu lantai di mana aku berdiri. Karena tak bergeser dan mataku menatapnya tajam, dia pun sadar bahwa aku harus diperlakuan istimewa. Dia ingat bahwa pembeli ada raja. Aku berpotensi menjadi seorang pembeli.
Dia mengganti arah.
 Dia menyapu ke arah sepasang tunatetra itu. Dia tahu mereka tak bisa melihat. Dia menyapu terus walau abu berhamburan di hadapan sepasang tunanetra. Sang cleaning service ini merasa punya kesempatan berbuat semena-mena pada orang malang. Alangkah tak adilnya.
Aku melakukan gerakan mencurigakan untuk mencuri perhatiannya. Saat kami bertemu pandang ku tunjukkan raut ketidaksetujuan kepadanya. Dia pun mengerti dan segera berhenti.
Dekat trotoar terlihat seorang tukang parkir berjalan dengan kedua tongkat tripodnya. Mungkin dia baru saja sembuh dari penyakit supi karena terlalu banyak minum cap tikus. Tikus telah menggigit urat-urat vitalnya sehingga dia lebih tak berdaya daripada sepasang tunanetra itu. Pria dengan tongkat tripodnya berkali-kali memaki ketika hanya diberi uang receh oleh para bos yang lewat dengan mobil-mobil mewah keluaran terbaru. Ada perbedaan yang menggelitik dari dua orang tunetra dan tukang parkir. Tunanetra yang menggunakan tongkat seadanya padahal mereka tidak melihat. Dan mereka berjalan seperti orang normal. Sedangkan tukang parkir matanya belum rabun tapi dia memiliki dua tongkat dengan jumlah kaki, enam.
“Smo pigi kita e,” kata ibu tunanetra memecah lamunanku. Perlahan dia menyusuri jalanan ramai.
“Oh kita kira ngana so pigi dari tadi,” jawab bapak tunanetra.
Tak ada lambaian tangan atau pun jabat tangan. Juga tak ada anggukkan kepala. Mereka tahu semua gesture itu tak berlaku dalam dunia mereka. Tapi aneh, jarang terjadi kesalahpahaman dalam komunikasi para tunanetra.
“Halua! Halua kacang!”
Tiba-tiba muncul rasa ibah dan haru dalam dada. Perlahan si ibu tunanetra menjauh. Hampir pupus dalam jangkauan mata. Sekilas ku lihat dia menjelma menjadi ibuku. Bapak tunanetra pula menjelma sebagai ayahku. Ku kejar si ibu tunanetra dan kuberikan beberapa lembar lima ribuan. Kuberikan juga jumlah yang sama kepada bapa tunanetra.
Kuingat temanku Kurniawan  sering bilang, “Dengan tak memberi sepeserpun pada orang malang begitu, kita meluaskan jalan revolusi. Teori-teori tentang ramalan hancurnya kapitalisme pun akan terwujud.”
Dia selalu melarangku bila memberi uang. “Kita akan membuatnya jadi malas. Atau bisa saja dia mungkin hanya berpura-pura,”  tambahnya.
Teringat pula kalimat dalam buku Emha Ainun Najib, “Terkadang Tuhan pun masih memberi apa yang kita minta walaupun dia tahu kita sering menipuNya.”