Rabu, 13 Agustus 2014

GLOBAL WARNING



[dialog bahasa Tontemboan]

Oleh Iswan Sual



Alo Kumajas          : O matemaku! Maka’awes in ta’ung in kayo’ba’ang anio’ makapaso’em. Kemengsya en tinanem tumou sa yo ma’urang…
                                   (O mate dang! Lebe tatamba taun ini dunia so lebe panas. Mo bagimana tu tanaman mo bertumbu kalu so nda ja ujang…)

Alo Tambaani       : Hahahahahaha….o inde’ ko e Alo. Kityu ko meroma-roma’ oka inesa e? Kele nimasenom ko e. Sapa re’e ing kawenduan iow?
                                   (Hahahhahhahaha…. O dapa tako ngana e Alo. Kyapa ngana korang bicara-bicara sandiri e? Sama deng so seno ngana e. Apa dang ngana pe masala?)

Alo Kumajas          : Ca e Alo. Sa aku semere em ber in tarepe’, meram karu’. Kuangku wo’o murang. Ma’sendang ke’. Ane, raica ona tare mua’ en cingke. Karengan sia mindo urang mbo wo ro’na sia kumesot em bua’na.
                                   (Nda e Alo. Kalu kita mo lia tu cuaca skarang, so laeng katu’. Kita pe kira mo ujang. Cuma ja bapanas. Jadi, nyanda ona tare mo babua tu cingke. Musti mo ambe ujang dia dulu baru dia mo bakaluar bua.)

Alo Tambaani       : Rai’ca toro ma’elur in casale’ i Kasuruang Wangko e Alo. Sapa e niwe’e i Kasuruang, karengan indong ta. Sa urang, indong eniitu. Sa reges, ya indong eniitu. Sa sendang ya indong eniitu.
                                   (Nyanda usa ja ator tu Tuhan pe mau e Alo. Apa tu Tuhan da kase, musti torang trima. Kalu ujang, trima itu. Kalu angina, ya ambe itu. Kalu panas ya trima itu.)

Alo Kumajas          : Sa iaku, si nimema’ em ber yo tantu ampa’pa se tou yo karu’ ma’teir in kayo’ba’ang.
                                   (Kalu kita, yang da beking tu cuaca so nda tantu  lantaran tu orang so nda katu’ ja jaga tu bumi.)

Alo Tambaani       : Kityu mbai?
                                   (Kyapa so?)

Alo Kumajas          : Se tou ku’a yo karu ma’skeit in talun. Linewo’eng karu’. Wo n tasic, nimakakelim in rai’ca lo’or. Wo nimakelim karu em pabrik, oto, motor. Siitu waya si ma’lewo’ eng kayo’ba’ang.
                                   (Tu orang kwa so nyanda ja perhatikan tu utang. So kase rusak katu’. Deng tu pante, so banya tu nda bagus. Kong so banya katu tu pabrik, oto, moto. Itu samua yang ja kase rusak tu bumi.)

Alo Tambaani       : Ane, kengsya cita tumou sa yowana se cena ya’na?
                                   (Jadi, bagimana torang mo hidop kalu so nda ada tu itu dia?)

Alo Kumajas          : E ceru’….siitu ku’a waya si an untep i nga’as e ku. Me’bali-wali kua’ kita tuma’nei e….
                                   (E tau dang…..itu kwa samua yang ada di dalang kita pe ontak. Torang kwa sama-sama pikir e….)

SESAT




[sebuah dongeng]

Oleh Iswan Sual


Tiba-tiba telpon genggam Valeri menggelinjang dan lompat-lompat  di atas meja belajarnya. Masih disebut meja belajar lantaran meski sudah lama tamat kuliah, di meja itu masih menumpuk buku. Setiap bulan bahkan bertambah. Setiap bulan sebagian gaji Valeri ditukar dengan buku-buku.
Untung saja  cepat dia melihatnya. Kalau tidak pasti badan ponsel tersebut telah terpisah-pisah begitu  membentur ubin lantai kamar berwarna putih di kamarnya. Panggilan telpon sebenarnya mau dia acuhkan saja. Itu sebelum dia melihat nama pemanggil yang tertera di layarnya.
“Halo…ngana ja kerja ato?”
“Halo…. Bicara jo. Kyapa?”
“Napa mama mo bicara kata.”
Mendadak dinding dada Valeri seperti ditendang-tendang dari dalam. Rasanya mau jebol dan ambrok. Kok, mama mau bicara? Tentang apa? Apa sesuatu yang luarbiasa telah terjadi? Pertanyaan itu memberondongnya. Enggan rasanya dia menekan tombol terima telpon sebelum siap sedia dengan kenyataan yang bakal masuk di telinganya sebentar lagi. Ada apa ya? Apa terjadi sesuatu pada ayah? Apa penyakitnya kambu lagi? Pertanyaan-pertanyaan menggempurnya kembali. Valeri memang selalu dak dik duk bila ada panggilan masuk di telpon genggamnya. Dan biasanya pikirannya langsung ke ayahnya. Gelagatnya seperti itu bukan tanpa alasan. Tahun lalu ayahnya terserang penyakit. Penyakit yang merengut berjuta-juta rupiah. Penyakit yang membuat ayahnya tumbang seketika di saat sedang nonton adu tinju di tv. Namun sayang penyakit itu tak ditemukan pihak rumah sakit. Macam-macam cara telah dilakukan. Scanning, tes urin, periksa darah, dan lain-lain. Semua itu tak membuahkan hasil. Tapi para dokter, perawat dan semua di perusahaan sakit itu meraup keuntungan dari rawat inap tiga hari ayah Valeri. Biasanya orang kampung, bila sudah begitu, pasti akan cepat-cepat pulang dan mencari kambing hitam. Mereka akan mencoba-coba mengingat orang-orang yang pernah berselisih paham lalu menuduh orang itu sudah melakukan praktik madiara. Tapi valeri tidak. Dia tahu penyakit ayahnya tak bisa terdeteksi lantaran alat-alat canggih sedang disimpan khusus untuk orang-orang kaya saja. Atau lantaran kedunguan para dokter yang dapat status dokter karena orang tua mereka hartanya banyak sehingga korang taambor-ambor.  Yang mendapat kartu sehat pun tidak berarti dirawat cepat. Mereka hanya menjadi tujuan praktek para mahasiswa yang sebentar lagi jadi dokter.
“Haaaaalo!”
“Kalu bole, ngana pulang skarang. Napa so hebo di sini, ngana kata so ja sesatkan orang!”
Entah apa yang Valeri ujarkan selanjutnya. Suara ibunya kini terdengar seolah bunyi NGIIIIING panjang di telinganya. Entah apa jawab yang diberikannya sewaktu hendak akhiri pembicaraan. Kini Valeri hanya terbelalak memandang tembok cat ungu di depannya. Rasa kantuk telah minggat sejauh-jauhnya. Tak tahu dimana rimbanya. Dia sekarang ini memikirkan satu nama. Calvin. Calvin adalah seorang pendeta yang pernah bertugas di gereja di desanya. Sekarang telah pindah ke jemaat Karowa. Tapi, rasanya dia tak percaya. Kok, seorang pendeta bisa gegabah dan tolol seperti itu? Kok,tega-teganya dia menggosipkan anggota jemaatnya? Valeri mengingat satu nama lagi yang disebut ibunya. Katanya dia juga seorang pendeta dan turut andil dalam penyebaran desas-desus. Hanya, kelaminnya perempuan. Valeri memaksa otaknya bekerja untuk mengingat nama itu. Saraf-saraf yang rusak akibat terhenyak oleh  berita buruk yang didengarnya tadi tetap saja dipaksanya berfungsi untuk mengingat satu nama. Meeeeerrrcy. Ya itu namanya. Nama yang kadang-kadang disalahucapnya menjadi Merry  dulu tatkala bertemu dengan si ibu pendeta. Dia memang sering menghindari ibu pendeta itu gara-gara sering memaksanya untuk segera disidi, dijadikan jemaat penuh sehingga bisa menggunakan hak pilih dalam suksesi diaken dan syamas. Kata ibunya ibu pendeta ini diberitahu pendeta Calvin bahwa Valeri telah menjadi orang sesat dan sedang menyesatkan orang.
Siang itu juga Valeri langsung membuka akun media sosialnya hanya untuk melihat-lihat apakah si Calvin itu sedang online. Dan ternyata Valeri beruntung. Di sudut kanan halaman akunnya tertera nama Calvin Wuner. Dulu salah seorang teman Valeri yang kebetulan sama-sama kuliah dengan Calvin di UKIT  pernah berujar, “Calvin itu pengkhianat. Dulu dia yang pimpin   demo mahasiswa melawan GMIM yang memaksakan untuk mengubah YPTK mejadi Wenas. Kami mendukungnya. Karena kami percaya dia. Tapi, ternyata dia itu bunglon dan pengkhianat. Diam-diam dia melompat ke kandang sebelah dengan tipu muslihat. Pasti dia menyogok.  Lebih baik aku begini saja namun tetap pada pendirian daripada menjadi pendeta dari hasil sogokan.” Valeri terheran-heran mendengar itu. Dan tentu saja tak percaya dengan kata-kata temannya itu. Wajar bila dia begitu, pikir Valeri.Dia tentu stress lantaran GMIM tak mau menerima mereka, lulusan YPTK, untuk menjalani masa vikariat di jemaat GMIM.
Rasa enggan dan malu menghalangi jari-jari Valeri untuk mengetik sebaris pertanyaan di kotak obrolan media sosial. Rasa itu tentu karena gelar pendeta yang melekat pada nama itu. Orang-orang kini kebanyakan tidak takut berbuat dosa meski mereka tahu mata Tuhan ada dimana-mana. Namun, para jemaat takut berbuat hal demikian di depan pendeta. Maklum, para pendeta itu adalah hamba Tuhan. Sama seperti pemerintah yang adalah wakil Allah. Dan kadang-kadang pendeta dan pemerintah lebih dipertuhankan daripada Tuhan itu sendiri. Para pendeta bukannya mencegah itu malah keenakan.
Entah roh apa yang merasuk, jari-jari tangan Valeri tiba-tiba bergelinjang di atas papan tuts komputer portable-nya.
“Pendeta, kyapa pendeta ja bilang kita kata so sesat deng so ja sesatkan orang?”
Qt bilang di ajak diakusi tu pemuda. Bukan sesatkan. Mungkin ibu yang salah membahasakan.”
“Amper satu kampung so tau bahwa kali kata kita penyesat. Lantaran nae-nae gunung, pigi-pigi di aerjatu, dll. Tu cirita ini hebo di skola deng di greja.”
Sejurus kemudian percakapan terhenti. Tak tahu sebabnya. Mungkin sinyal yang kurang subur. Mungkin juga pendeta Calvin sibuk dengan kerja mempersiapkan bahan khotbah untuk kebaktian malam nanti.  
Esoknya Valeri telah berada di kampung halamannya. Pagi-pagi sekali dia meluncur dengan sepeda motor tua bermerk Kharisma keluaran tahun 2003. Kepulangannya bukan untuk mengamuk atau hal-hal nekat sejenisnya di rumah pastori. Kepulangan kali ini dipicu oleh rasa sakit di punggung dan tangan kirinya. Barangkali pemantiknya adalah kerna tergelincir dan terjatuh saat menuruni gunung Soputan dua minggu lalu. Orang Minahasa bilang itu salese. Belum lagi dia duduk, ibunya langsung mencecarnya dengan cerita-cerita miring tentangnya. Kata ibu Valeri, cerita buruk itu bermula dari mulut pendeta Calvin kemudian menjangkit ke mulut pendeta Mercy. Ibunya menerangkan dengan jelas. Tak sedikit pun ada tanda jika cerita itu dikarang-karang. Namun, Valeri tak bicara banyak. Bekal ilmu yang dia dapat waktu di bangku kuliah kiranya cukup untuk dimanfaatkan  mengontrol emosinya. Tiga kali dia diurut oleh pria tua di kampungnya. Dia diminta datang lagi besoknya. Tapi malamnya dia hilang lagi dari pandangan mata warga kampung. Di malam yang sama dia kembali berada di kota Wenang, Manado. Tak lagi pikir soal makan malam, sontak dia membuka laptop-nya untuk bicara dengan pendeta Calvin lewat akun media sosial.  Dan sebuah kebetulan lagi. Nama pendeta yang disebut temannya sebagai pengkhianat itu ada namanya di kotak obrolan.
“Pendeta, da bagimana  tu depe cirita kong sampe pendeta usul ada diskusi deng pemuda? Apa tu latar blakang?”
“Pendeta Mercy tanya ngana pe kabar kalu ada dimana. Soalnya so jarang di kampung. Qta bilang mungkin kuliah soalnya ada di S2 UNSRAT dan selama ini aktif di kegiatan budaya. Baru, muncul cerita kalu ngana so nda maso gereja kata disana. Kita bilang so ada sto keyakinan baru. Dan itu yang perlu didiskusikan. Nda bacarita tentang pemuda. Mar, mungkin penafsirannya sampai kesana. Ibu sebagai pendeta, ta kira itu wajar untuk di kritisi dan di dialogkan.”
Valeri jadi bingung. Bila membaca ketikan penjelasan pendeta Calvin, tak ada yang salah. Memang ada sedikit yang sensitif. Lalu, siapa yang berbohong? Kutipan pendeta Mercy tentang pernyataan pendeta Calvin sangat berbeda dengan apa yang dibaca Valeri hari ini. Pendeta Mercy, setelah Valeri konfirmasi, juga menyatakan bahwa pendeta Calvin sudah berdusta dengan membantah kalau dia pernah bilang Valeri adalah penyesat dan sedang menyesatkan para pemuda sekampungnya. Siapa yang berdusta? Apa ada seorang pendeta berdusta?
Pernah pertanyaan itu Valeri tujukan pada kakaknya. Sekonyong-konyong kakaknya bilang, “Apa ada pendeta berdusta? Ya ialah. Banyak!!! Menurutmu, apa para pendeta kita pernah jujur dengan isi hatinya. Menurutmu apa sogok menyogok dalam soal mutasi pendeta itu mereka buka di atas mimbar? Menurutmu, apa mereka pernah mengaku kalau nafsu seks mereka sering dipuaskan dengan beramahtamah dengan sesama hamba Tuhan yang kemudian berujung pada perselingkuhan? Menurutmu, apa mereka mau mengakui kalau perseteruhan di UKIT sebenarnya dilantarbelakangi oleh keinginan para pendeta untuk berkuasa? Menurutmu, apa mereka pernah benar-benar jujur soal kuangan kas jemaat?”
Bukannya terobat kegundahannya. Malah bertambah oleh karena pikiran-pikiran kakaknya itu. Valeri pun putus asa untuk mencari siapa biang keladi perusakan nama baiknya. Gara-gara ulah dua pendeta itu para diaken dan syamas ikut-ikutan menyebar kabar burung dalam kumpulan terkecil jemaatnya. Pertemuan-pertemuan ibadah tak lagi menjadi wadah pemberitaan kabar keselamatan sebagaimana amanat Yesus, justru menjadi tempat penghakiman terhadap terdakwa yang sengaja tak dihadirkan. Ruang-ruang ibadah bukan lagi diisi dengan penguatan-penguatan iman tapi dengan pembusukan-pembusukan insan. Serigala saja enggan menerkam anaknya sendiri. Tapi para gembala  ini justru beramai-ramai menelanjangi dombanya sendiri. Domba yang bermasalah bukannya dikunjungi dan dibantu keluar dari jerat malah ditendang masuk jurang yang curam.
Aneh bin ajaib. Ada seorang pemuda yang sudah jarang ke gereja. Hobinya naik gunung dan melancong ke tempat-tempat indah ciptaan sang Khalik. Dia mengagumi ciptaanNya. Dia juga gemar menulis di dinding-dinding media sosial. Tak bisa dipungkiri tulisan-tulisan itu mengundang kontroversi karena berisi kritik. Kritik untuk siapa? Kritik unutk semua orang. Termasuk dia sendiri, Valeri. Barangkali, lantaran tak terima dikritik atau tersinggung, berulahlah orang-orang tertentu. Menebar fitnah demi sebuah kemudahan untuk keluarga.
Sebulan kemudian Valeri pulang kampung. Hari itu berkenaan dengan hari Pengucapan Sukur se-kabupaten. Yang dia lihat pada mata-mata orang sekampungnya tinggal pandangan curiga dan amarah. Ternyata para pendeta itu telah berhasil. Dia juga dengar, bukan hanya pendeta. Ada juga guru-guru yang pernah menjadi kawannya, sewaktu masih mengajar dulu, yang ikut ambil bagian merusak namanya. Makanya tak heran banyak murid yand dulu akrab dengannya kini menjauh seolah melihat hantu bertaring. Tapi, Valeri masih saja santai. Bahkan dia menegur orangtuanya yang sudah naik pitam. Entah apa yang ada di pikiran Valeri. Apakah dia telah mewarisi kesabaran Ayub. Atau, mungkinkah dia menganggap soal itu enteng. Dia sih enteng karena dia tak tinggal di kampung. Yang berat ya keluarganya - orangtua dan adik kakaknya. Juga keponakan-keponakannya.
Valeri kini tak lagi banyak bicara. Mungkin menyalahkan diri. Mungkin juga mengutuki orang-orang yang telah sampai hati menusuknya dari belakang. Sikap pendiam itu kuperhatikan semakin menjadi saat dia tahu orangtuanya telah beralih kepercayaan. Bukan. Sejatinya bukan beralih kepercayaan. Hanya beralih tempat saja. Karena sesungguhnya Tuhan itu omnipresent, ada dimana-mana. Dulu mereka setiap malam rajin membaca kitab bahasa Indonesia tulisan latin. Kini kitabnya sudah berganti, kini kitab mereka ber-aksara Arab. Tembang-tembang dari mulut mereka bukan lagi dari kidung jemaat melainkan solawat dan irama padang pasir yang sarat dengan bunyi-bunyi kasidah. 

======================
Minahasa, 12 Agustus 2014

E EMPUNG….





Oleh Iswan Sual




E Empung ang kuntung
si makakelung
se poyo’ wo se palumpung

E Empung ang lau’
Si maelur
Ing kayoba’ang wo in tou

E empung si nemema’                    
En tana’ wo langit

E Empung Kasuruang Wangko
Si tumeir in cami intarepe’ wo wo’ondo

Keter-ketereng mi’i in cami
Kamang-kamangeng
Iroyong en sakit
Iporak in uted wo em pamulengeng


=====================
Manado, 13 Agustus 2014

CERITA TENTANG ROMPAS, ROMPIS DAN SANGARANGAN




[sebuah cerita rakyat Minahasa]

Oleh Iswan Sual


Suatu ketika, si Rompas dan Rompis ini ditugasi Kolano untuk mencari anak tertua dari anak gadisnya yang hilang, yang masih sedang dicari-cari.
“Sapa tu mo dapa pa kita anak, dia yang mo jadi kolano yang mo ganti pa kita,” kata Kolano pada mereka.
Lalu berjalanlah si Rompas dan Rompis dan masuk ke hutan. Mereka dibekali senjata untuk berburuh dan menghidupi mereka. Dalam perjalanan, mereka saling bicara dan saling berganti tugas mencari si Wawu. Bila satu pergi mencari, satunya lagi tinggal untuk memasak untuk mereka berdua. Yang berangkat berburu pertama adalah Rompas. Dan Rompis yang bertugas memasak. Setelah selesai memasak, diasanya parangnya. Sementara parangnya diasa, datanglah si Sangarangan dan langsung bicara pada Rompis.
 “E Rompis, torang bakalae!” katanya.
Rompis kaget melihat si Sangarangan. Mereka saling memandang. Lalu kata Rompis, “Oh kalu cuma ngana, mari jo dang!”
“Mar, kalu ngana dapa mampu kase kala pa kita, deng kita pe kapala ngana dapa kasecucu di tana, kita nda mo makang tu nasi yang ngana da momasa. Mar, kalu nyanda, kita mo kaseabis komang,” kata Sangarangan.
Permintaan itu diiyakan Rompis. Kemudian mereka berkelahi. Semakin lama mereka berkelahi semakin lemah si Rompis. Tak bisa dikalahkannya si Sangarangan. Habis itu nyatalah bahwa si Sangaranan yang lebih kuat. Lalu dimakan-habisnyalah nasi itu.
Waktu Rompas datang, carilah nasi si Rompas kepada si Rompis. Rompis bilang bahwa nasi sudah dihabiskan oleh Sangarangan. Besoknya Rompis juga yang tinggal untuk memasak meskipun Rompas tahu nasi cuma akan dihabiskan Sangaranan. Ya hari itu pun nasi hanya dimakan oleh Sangaranan pula.
Besoknya Rompas yang tinggal untuk memasak. Selesai memasak lalu dia mengasa parangnya. Tak lama kemudian keluarlah Sangarangan dan langsung berkata, “Bakalae torang, e Rompas! Kalu  ngana bole kase cucu tu kita pe kapala di tana, kita nda mo makang tu nasi. Mar, kalu nyanda, musti kita kita mo kaseabis itu.”
Berkelahilah mereka. Semakin lama berkelahi nyaris tak mampu lagi si Rompas meladeni Sangarangan. Dia pun mengambil parang yang diasa lalu diayunkannya mengenai Sangarangan. Lalu kata Sangarangan, “Itu baru laki-laki, kalu Rompis nyanda kuat. Marijo iko pa kita. Kita mo antar ngana mo cari tu Wawu paling tua, Kolano pe anak, yang dia da suru ngoni cari.”
Mengikutlah Rompas pada Sangarangan. Mereka pun berjalanlah. Lalu sampailah di sungai yang lebar dan dalam. Diajarlah Sangaranan si Rompas lantaran dilihatnya takut menyeberang.


“Bapegang pa kita pakeang ngana, ne! Deri ngana tako jo mo bapotong kuala. So sana kwa tu ruma. Torang mo paksa cari itu. Itu kwa Ma’beris pe ruma. Mar, ngana jo tu mo nae. Kita cuma mo mangada di tetengoan, trus kaseciri akang pa kita tu ikang e!” Katanya.  Rompas pun mengiyakan itu.
Sesudah mereka meliwati sungai, naiklah Rompas di rumah pertama. Sangarangan tinggal di bawah. Di tanah. Rompas disuguhkan ikan oleh tuan rumah. Makanlah ia. Diikutinya apa yang dikatakan Sangarangan. Dijatuhkannya ke bawah ikan-ikan. Dan diambil oleh Sangarangan. Salah pindahlah mereka. Lama-kelamaan semakin besar ikan yang disajikan bagi mereka. Pergilah mereka ke rumah yang kesembilan. Dia pun tertawa. Setiba mereka di rumah Kolano (pemimpin) Maberis, berkatalah si Sangarangan, “E, kalu ngana mo pigi disitu, bakalae dulu deng Kolano. Kalu ngana so nda mampu, basiwit kamari nanti kita bakutulung deng ngana.” Pergilah Rompas dan langsung berupaya membunuh kolano dan istrinya. awalnya si Kolano tak dapat dikalahkannya lantaran banyak yang membantu. Lalu bersiullah si Rompas. Tak lama Sangarangan sudah disitu. Dilawanlah mereka semua pengawal Kolano. Semuanya mati dengan cepat.
Lalu mereka membuka wuni-wuni dan pergi ke rumah yang kesembilan.
“Rompas, cari jo tu ngana cari-cari. Kalu ada disini, bawa jo dia,’ kata Sangarangan.
Dicarilah Rompas. Ternyata banyak wawu disitu. Dilihatnyalah yang dicarinya lalu dipanggilnya dan mereka mereka saling tukar sisim (sisir/cincin)  dan pulang. Ketika mereka pulang mereka menumpang di sebuah kapal. Adapun si Sangarangan telah tinggal di kampungnya para Maberis itu. Dialah yang menjadi kolano menggantikan kolano yang dibunuh mereka. Begitu mereka tiba di kapal berlayarlah mereka.
Suatu ketika mereka singgah di daratan.
“E Rompas, ngana pigi di darat kong ambe kasana tu kayu deri kita mo bawa,” kata seorang Tonaas kepada Rompas.
  Pergilah si Rompas. Waktu dilihat si Tonaas bahwa si Rompas sudah di daratan, cepat-cepatlah ia menjalankan kapal.
Ada pun si Tonaas, telah diceritai Rompas tentang Wawu temannya, anak gadis Kolano di tanah itu. Dicertakannya juga tentang apa yang disampaikan Kolano, siapa yang akan memperoleh si anaknya dialah yang akan meminangnya, dan dialah yang akan menjadi kolano menggantikannya. Sesampai disana, si Tonaas pergi menemui Kolano, lalu diceritakannya bahwa dia yang menemukan anaknya.
Rompas tertinggal di daratan dimana dia diminta turun oleh si Tonaas untuk mengambil kayu distu. Suatu ketika Rompas melihat burung Wara’ (Manguni) lalu dipanggilkan dan katanya, “E Wara’, kita mo kase minum ngana disini, mar kaseterbang akang kita kasana sampe di kampung sana.”
Disana ada ibunya. Lalu diterbangkanlah si Rompas oleh  Wara’ langsung ke ibunya. Besoknya, Rompas mendengar bunyi Spera dan Senjata. Kedengaran pula olehnya musik kolintang dan tambor dan bunyi-bunyian yang tak terbilang banyaknya. Melimpah-limpah.


“E Ma’, dimana tu bababunyi itu?” kata Rompas
 “O, mo beking pesta tu Kolano lantaran so dapa tu depe anak yang tu da ilang, sbantar dia smo kaweng,” jawab ibunya.
 “Torang pigi na Ma’. Torang tre pig ilia,” kata Rompas.
 “Ore, sapa tu mo pigi disitu?” jawab ibunya.
 “O nyanda, sampe di pagar jo dang torang mob alia akang,” lagi kata Rompas.
 “Noh pigi jo dang kwa ngana e, mar jang lama-lama ne!” lagi kata ibunya.
 Kemudian pergilah si Rompas melihat si Wawu yang sementara duduk bersama Tonaas. Dilihatnya Rompas si Wawu lalu disuruhnya satu orang, katanya, “E, ambe akang kasana minuman torang, ambe kasana yang Wawu da mangada akang sana. Kong bilang begini, “Kita ada yang suru kamari, mo datang ambe tu minuman yang Wawu da mangada akang.”
Pergilah orang itu dan kembali membawakan Rompas apa yang diambilnya. Susudah meminumnya, diambilnya sinsim (cincin) dari buah tangannya dan ditarunya di tempat minumnya, lalu katanya, “Pigi jo! Kasebale kasana tu ini, mar jang roba, biarjo bagitu, kasetunjung kasana pa Wawu’ ne!”
Pergilah pula si orang itu dan ditunjukkannya cincin itu.  Lalu berdirilah si Wawu dan mulai bicara, “E mana tu orang  yang da basuru ngana bawa ini?”
Kemudian diantarlah orang itu si Wawu kepada Rompas. Dan diceritakanlah kepada semua bahwa bukanlah si Tonaas yang menemukannya, tapi si Rompas. Karena itulah si Tonaas ini disuruh bunuh oleh si Kolano. Lalu si Rompas kawinlah dengan Wawu malam itu juga.

================
Diterjemahkan dari buku Tontemboansche Teksten
Minahasa, 13 Agustus 2014