Minggu, 10 Agustus 2014

PAPENDANGAN MASA KINI ala TOU TONDEI




STMS: “SA KEILA’AN NU EM BANUANU, TA’NEIEN NU WO COPUSEN NU SIA”
[sebuah laporan kegiatan]

Oleh Della Palapa

* Penulis adalah mahasiswa Jurusan Biologi FMIPA UNIMA. Aktif di Sanggar Tumondei dan Kerukunan Siswa Mahasiswa Tondei (KSMT)



Tiga hari berlalu. Terasa begitu cepat. Meski penat dan letih lesuh namun banyaklah ilmu yang didapat. Waktu tak terbuang percuma. Energi tak dikuras sia-sia. Malahan faedah yang diperoleh lebih berharga dari emas dan perak. Kan jadi warisan kelak. Bagi generasi selanjutnya. Bagi para taranak. Sesuai harapan Toar, Lumimuut dan Karema.
Untuk kesekian kalinya gedung bercat putih milik ro’ong Tondei Dua diberi keistimewaan menjadi tempat dan saksi pelaksanaan kegiatan Sanggar Tumondei.  Balai Pertemuan Umum (BPU) itu seolah  menjadi pilihan satu-satunya karena dinilai sebagai wadah paling representatif dan strategis untuk dihelatnya kegiatan Pelatihan dan Pendidikan Dasar Sanggar Tumondei Minahasa Selatan (PELDIKDAS STMS) II itu. Pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2014 puluhan anak muda ro’ong Tondei raya datang setiap hari dan dibekali dengan materi dan praktik seputar topik-topik:  Posisi Kebudayaan Minahasa dalam Kebudayaan Dunia, Analisis Sosial, Menulis Sejarah Desa Tondei dan Minahasa, Public Speaking, Jurnalistik, Sastra Minahasa, Manajemen Konflik, Seni Pertunjukkan (Teater) dll.  Selain menerima materi, panitia juga disuguhkan kegiatan Pasiar Adat ke Watu Lutau, sebuah situs budaya batu lesung, sesudah acara penutupan dilaksanakan. Watu Lutau itu terletak hanya 10 menit jalan kaki dari BPU Tondei Dua.
Meski acara ini digelar dengan sangat sederhana namun para pembicara yang turut hadir adalah handal  dan berpegalaman dalam bidangnya. Sebut saja, DR. Ivan R.B. Kaunang, M.Hum, dosen Fakultas Ilmu Budaya UNSRAT; Yefta Kawengian, S.P , orang Tondei, Dosen, Pembantu Dekan I Fakultas Pertanian UKIT; Denny Pinontoan, M.Teol, dosen dan Pembantu Rektor III UKIT; Freddy Sreudeman Wowor, S.S, dosen Fakultas Ilmu Budaya UNSRAT;  Sylvester Setlight, peteater SULUT; Rikson Karundeng, M.Teol, Redaktur Pelaksana Harian Media Sulut; Bodewyn G. Talumewo, sejarawan muda Minahasa; dan Iswan Sual, S.S, sastrawan muda Minahasa.
Kegiatan ini dilaksanakan dengan maksud untuk membekali anggota dengan berbagai keterampilan dan pengetahuan agar dapat berkarya dengan maksimal dalam mengembangkan kebudayaan secara umum dan Minahasa secara khusus,” kata Tiffany Sumangkut, gadis cantik yang diangkat sebagai ketua Panitia pelaksana oleh pengurus STMS tahun ini. Lebih lanjut mangala’ung (Tontemboan: gadis) yang sementara kuliah di Jurusan Matematika FMIPA UNIMA mengatakan bahwa PELDIKDAS tersebut dilaksanakan dengan tujuan:
1.   Membentuk manusia yang mandiri, berbudi pekerti luhur, berwawasan budaya dan mencintai ilmu pengetahuan.
2.   Menanamkan nilai-nilai kreatifitas, kebersamaan, kepedulian terhadap budaya lokal dan global.
3.   Mengembangkan potensi yang ada dalam diri setiap anggota maupun bukan anggota.
4.   Membekali anggota dan bukan anggota dengan keterampilan kecakapan hidup.
5.   Menunjang program pemerin)tah dalam hal kebudayaan.

Pimpinan STMS, Iswan Sual dan Yanli Sengkey, ketika ditanya soal arti tema kegiatan tahun ini, secara kompak berujar, “Torang yakin, kalu ngana kenal bae ngana pe tampa tinggal, wanua ato ro’ong, ngana salalu mo inga deng sayang ngana pa dia’. Itu noh arti deri syair tua Tontemboan: ‘Sa Keila’an Nu em Banuanu, Ta’neian Nu wo Copusen Nu sia’. Alasan torang beking tu kalimat itu tema adalah karna torang lia tu generasi muda skarang banya yang so nyanda  bangga deng tana deng dorang pe rumah sandiri lantaran kurang pengetahuan.”
Dari pantauan wartawan koran ini jumlah peserta tahun ini terlihat agak sedikit menurun. Barangkali ini dipengaruhi oleh provokasi pihak tertentu yang menyebarkan isu-isu negatif dan kecurigaan berlebihan dalam masyarakat. Sangat disayangkan sekali orang-orang itu pun hanya berani melempar batu sembunyi tangan. Mereka tidak pernah dengan sportif mau terlibat dalam pembicaraan tatap muka atau dialog. Padahal para pemuda itu siap dan terbuka untuk tukar menukar pikiran sehubungan dengan geliat dan aktifitas mereka selama ini.
Ketika ditanya kepada salah satu peserta mengenai pendapat mereka tentang pelaksanaan program tersebut, pemuda yang enggan menyebut nama ini mengatakan, “Kegiatan bagini so musti beking trus. Ini noh tu Papendangan modern. Karna deng bagitu torang pe generasi nyanda buta budaya deng buta pengetahuan tentang Minahasa. Kita lei heran orang-orang skarang. Dorang bangga pigi di Bali kong bafoto di muka pura deng patong-patong Hindu. Dorang lei snang skali pigi di Jawa kong bangga kalu bafoto di candi Borobudur deng laeng-laeng. Mar, tu budaya sandiri, sama deng tu batu Pinabetengan sana, dorang bilang tampa setang-setang! Ini gawat ini! Budaya Minahasa bukang takikis abis lantaran orang pasengkotan (luar), mar justru karna orang dalam.”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar