STMS: “SA KEILA’AN NU EM BANUANU,
TA’NEIEN NU WO COPUSEN NU SIA”
[sebuah laporan kegiatan]
Oleh Della Palapa
* Penulis adalah mahasiswa Jurusan Biologi FMIPA
UNIMA. Aktif di Sanggar Tumondei dan Kerukunan Siswa Mahasiswa Tondei (KSMT)
Tiga
hari berlalu. Terasa begitu cepat. Meski penat dan letih lesuh namun banyaklah
ilmu yang didapat. Waktu tak terbuang percuma. Energi tak dikuras sia-sia.
Malahan faedah yang diperoleh lebih berharga dari emas dan perak. Kan jadi
warisan kelak. Bagi generasi selanjutnya. Bagi para taranak. Sesuai harapan
Toar, Lumimuut dan Karema.
Untuk kesekian kalinya gedung bercat putih milik
ro’ong Tondei Dua diberi keistimewaan menjadi tempat dan saksi pelaksanaan
kegiatan Sanggar Tumondei. Balai
Pertemuan Umum (BPU) itu seolah menjadi pilihan
satu-satunya karena dinilai sebagai wadah paling representatif dan strategis untuk
dihelatnya kegiatan Pelatihan dan Pendidikan Dasar Sanggar Tumondei Minahasa
Selatan (PELDIKDAS STMS) II itu. Pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2014 puluhan anak
muda ro’ong Tondei raya datang setiap hari dan dibekali dengan materi dan
praktik seputar topik-topik: Posisi
Kebudayaan Minahasa dalam Kebudayaan Dunia, Analisis Sosial, Menulis Sejarah
Desa Tondei dan Minahasa, Public Speaking,
Jurnalistik, Sastra Minahasa, Manajemen Konflik, Seni Pertunjukkan (Teater)
dll. Selain menerima materi, panitia
juga disuguhkan kegiatan Pasiar Adat ke Watu Lutau, sebuah
situs budaya batu lesung, sesudah acara penutupan dilaksanakan. Watu Lutau itu
terletak hanya 10 menit jalan kaki dari BPU Tondei Dua.
Meski acara ini digelar dengan sangat sederhana namun
para pembicara yang turut hadir adalah handal dan berpegalaman dalam bidangnya. Sebut saja,
DR. Ivan R.B. Kaunang, M.Hum, dosen Fakultas Ilmu Budaya UNSRAT; Yefta
Kawengian, S.P , orang Tondei, Dosen, Pembantu Dekan I Fakultas Pertanian UKIT;
Denny Pinontoan, M.Teol, dosen dan Pembantu Rektor III UKIT; Freddy Sreudeman
Wowor, S.S, dosen Fakultas Ilmu Budaya UNSRAT;
Sylvester Setlight, peteater SULUT; Rikson Karundeng, M.Teol, Redaktur
Pelaksana Harian Media Sulut; Bodewyn G. Talumewo, sejarawan muda Minahasa; dan
Iswan Sual, S.S, sastrawan muda Minahasa.
“Kegiatan
ini dilaksanakan dengan maksud untuk membekali anggota dengan berbagai
keterampilan dan pengetahuan agar dapat berkarya dengan maksimal dalam
mengembangkan kebudayaan secara umum dan Minahasa secara khusus,” kata Tiffany
Sumangkut, gadis cantik yang diangkat sebagai ketua Panitia pelaksana oleh
pengurus STMS tahun ini. Lebih lanjut mangala’ung (Tontemboan: gadis) yang
sementara kuliah di Jurusan Matematika FMIPA UNIMA mengatakan bahwa PELDIKDAS tersebut
dilaksanakan dengan tujuan:
1.
Membentuk manusia yang mandiri,
berbudi pekerti luhur, berwawasan budaya dan mencintai ilmu pengetahuan.
2.
Menanamkan nilai-nilai kreatifitas,
kebersamaan, kepedulian terhadap budaya lokal dan global.
3.
Mengembangkan potensi yang ada
dalam diri setiap anggota maupun bukan anggota.
4.
Membekali anggota dan bukan anggota
dengan keterampilan kecakapan hidup.
5.
Menunjang program pemerin)tah dalam
hal kebudayaan.
Pimpinan STMS, Iswan Sual dan Yanli Sengkey, ketika
ditanya soal arti tema kegiatan tahun ini, secara kompak berujar, “Torang yakin, kalu ngana kenal bae ngana pe
tampa tinggal, wanua ato ro’ong, ngana salalu mo inga deng sayang ngana pa dia’.
Itu noh arti deri syair tua Tontemboan: ‘Sa
Keila’an Nu em Banuanu, Ta’neian Nu wo Copusen Nu sia’. Alasan torang
beking tu kalimat itu tema adalah karna torang lia tu generasi muda skarang
banya yang so nyanda bangga deng tana deng
dorang pe rumah sandiri lantaran kurang pengetahuan.”
Dari pantauan wartawan koran ini jumlah peserta tahun
ini terlihat agak sedikit menurun. Barangkali ini dipengaruhi oleh provokasi
pihak tertentu yang menyebarkan isu-isu negatif dan kecurigaan berlebihan dalam
masyarakat. Sangat disayangkan sekali orang-orang itu pun hanya berani melempar
batu sembunyi tangan. Mereka tidak pernah dengan sportif mau terlibat dalam pembicaraan tatap muka atau dialog.
Padahal para pemuda itu siap dan terbuka untuk tukar menukar pikiran sehubungan
dengan geliat dan aktifitas mereka selama ini.
Ketika ditanya kepada salah satu peserta mengenai
pendapat mereka tentang pelaksanaan program tersebut, pemuda yang enggan
menyebut nama ini mengatakan, “Kegiatan
bagini so musti beking trus. Ini noh tu Papendangan modern. Karna deng bagitu
torang pe generasi nyanda buta budaya deng buta pengetahuan tentang Minahasa. Kita
lei heran orang-orang skarang. Dorang bangga pigi di Bali kong bafoto di muka
pura deng patong-patong Hindu. Dorang lei snang skali pigi di Jawa kong bangga
kalu bafoto di candi Borobudur deng laeng-laeng. Mar, tu budaya sandiri, sama
deng tu batu Pinabetengan sana, dorang bilang tampa setang-setang! Ini gawat
ini! Budaya Minahasa bukang takikis abis lantaran orang pasengkotan (luar), mar
justru karna orang dalam.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar