Kamis, 10 April 2014

SUATU KETIKA DI PAKOPRA’AN


oleh Iswan Sual


          
“Mereka tidak percaya dengan cerita-cerita kepahlawan tou Minahasa yang dipenuhi dengan mistik. Mereka menganggap itu sebagai kebohongan besar. Akan tetapi, begitu kami memberi bukti, mempertontonkan kesaktian warisan leluhur, mereka bilang sesat dan kekuatan dari setan. Teringat olehku sebuah cerita dalam Injil ketika Yesus banyak melakukan mujizat. Para pemuka dan tokoh Israel menuduh Yesus telah kerasukan Setan. Dia dianggap menggunakan kuasa penghulu setan, beelsebul,” kata Matanei suatu malam ketika kami baru saja selesai dengan pekerjaan-pekerjaan Ma’kopra.
Punggungku kubaringkan di gundukkan gonofu yang masih basah. Seharian kami mengupas kulit kelapa. Noda-noda kulitnya menempel tebal di tanganku. Matanei masih berdiri dengan sebuah kelapa di tangannya. Di depannya terdapat sebuah tiang lewang yang tajam. Yang bila tak hati-hati akan menusuk jantungnya bila terpeleset karena tidak hati-hati. Matanei adalah orang tekun dan telaten dalam pekerjaan-pekerjaan demikian. Kadang-kadang juga dia menjadi tukang gula aren. Terpaksa tahun ini dia melakoni pekerjaan sebagai ma’kopra karena tak ada lagi yang mau mengerjakannya. Banyak pria lebih memilih menjadi pekerja di luar wanua lantaran harga kopra telah jatuh. Buah-buah kelapa yang kami kuliti sebagian besar telah bertumbuh dan berkecamba. Dagingnya telah menipis dan ringan. Otomatis hasilnya tidak pulangongkos dengan tenaga dan waktu yang dikeluarkan. Tapi bagi Matanei meski harga kopra telah menukik ke tanah, kelapa harus diolah. Dia meyakini bahwa harga kopra yang rendah mengajarkan kami tentang penghematan memakai uang. Sebaliknya harga kopra yang tinggi justru mengajarkan orang untuk menjadi tukang boros dan dengan entengnya menghambur-hamburkan uang demi hal atau barang yang tidak perlu.
“Alo, kase cirita kamari pa kita tentang ngana pe Apo-apo. Tu cirita itu mo beking kita lebe tamba smangat bakerja. So banya yang kita dengar mar, sapa tau ada tu blum kita tau,” kata Matanei sembari mendorong dan menarik kulit buah kelapa yang telah tertancap pada lewang.
Matahari memang sudah agak tegak berdiri. Rasa lapar belum datang. Barangkali ubi rebus santan dan winongos  yang kami konsumsi tadi pagi cukup memberi kami energi untuk bertahan hingga sore nanti. Tambah lagi, tombong juga tak luput dari mulut kami berdua. Buah di dalam buah itu berbentuk roti dengan daging yang manis turut menyumbang kekuatan.
“Alo, angko so perna dengar tu cirita Apo Tius deng tete Limpele?” kataku dengan penuh semangat.
“Yang kita dengar tu tete Limpele da dapa pegangan dari Tete Tius Sual no. Mar, kita nyanda tau tu cirita-cirita laeng.” Begitu tahu Matanei belum pernah mendengar cerita itu aku langsung bersemangat untuk bertutur. 
“Dulu kata perna tete Limpele dapa berita dari Motoling kalu dia musti sampe disana pagi-pagi. No, waktu itu kan jalang kasana blum bagus. Kong masi banya tu yaki-yaki ja badola. Pokoknya nyanda aman kalu mo bagelap mo kasana. Tete Limpele tau biar alasan apa tu mo kase tetap depe atasan nyanda mo trima itu. Ya karena dia so abis akal, ya dia pigi pa tete Tius Sual kong minta tulung. Setelah tete so bilang tu perlu tete Tius Sual bagini kamari, ‘Sa ko an tempokem in do’ong, icili’im mange. Kalu so di ujung kampung, kasetidor jo tu mata. Se tutu jo kata tu mata.’ Pagi-pagi kata tete Limpele so basiap kong langsung bajalang. Pe sampe di ujung kampung dia kasu tutu kasana tu mata. Dia pe buka kamari tu mata dia so dudu di dalam ruangan rapat di Motoling.”
Mendengar ceritaku Matanei tertawa terkagum-kagum. Mata-matanya bercahaya. Mirip anak-anak yang baru saja mendengar dongeng sebelum tidur. Demi memuaskannya kuulang-ulang lagi cerita itu, dengan uraian kata-kata lain. reaksinya setelah selesai kupaparkan cerita itu tetap sama. Dia tertawa-tawa penuh kebanggaan kepada kehebatan pengetahuan yang dilakonkan oleh tete Limpele. Minggu lalu juga kuceritakan tentang seorang mamuis yang tertangkap oleh Apo Hero Timporok. Mamuis itu kepergok oleh seorang nenek di kebun Aser ketika sedang memanjat pohon pepaya. Mamuis itu kelaparan ketika berusaha masuk ke kampung kami untuk mencari mangsa. Karena sedang getol-getolnya pemerintah membangun, jadi para mamuis berkeliaran mencari kepala manusia untuk dijadikan tumbal pendirian jembatan. Si nenek yang memergok si mamuis berlari ketakutan ke kampung sambil berteriak. Para tetua kampung pun turun tangan. Apo Tertius dan Apo Hero memimpin pencarian mamuis. Kedua Apo mengendus lokasi terakhir mamuis. Namun begitu tiba di lokasi dia tak terlihat. ‘Si Hero ke’ mengat sia. Hero saja yang akan mencarinya’. Akhirnya si mamuis ditangkap. Dia diberi makan dan diperingatkan untuk tidak mengikuti niatnya mencari kepala manusia di kampung kami. Dia pun dilepas hidup-hidup. Padahal biasanya mamuis yang tertangkap tak pernah akan dibiar berkeliaran.
“Ada lei?
“Ada! Pernah dorang Apo Tius Sual bajalang kaki ka Tondano. Dorang pigi bakudapa dengang nene. Tu nene itu apo-apo ja maso akang. Ada satu orang yang kurang percaya tu babagitu da iko sama-sama. Waktu dorang so di dalam ruma. Tu acara langsung mulai. Kong heran. Tu acara sama skali deng ibada Kristen. Ada depe doa awal deng ahir. Kong ja manyanyi tu taling-taling, lagu-lagu Kristen jaman dulu. Ada kata tu ja bicara nyanda ja dapalia. Tu orang yang kurang percaya itu tarutaru kira. Ternyata bukang nene tu ja bicara. Karna lengkali ja tasamasama. Depe heran deng tu suara yang depe orang nyanda ja dapalia itu lancar skali manyanyi taling. Kong dorang-dorang ja babajawab no kalu tu apo-apo yang nda ja dapalia itu ja bicara deng kase hormat. Lengkali ja batanya, ‘Ro’na aku temowaku’?Bila kita mo baroko? Ro’na aku temenga’? bole kita mo makang pinang?’ Kong datang deng pulang ja hormat dan minta permisi. Lengkali tu nene yang jadi perantara ja dapa mara deri tu apo-apo lantaran masi kata ja bicara so susung bicara. Tu orang yang nyanda percaya itu penasaran. Akhirnya dia coba batanya tentang keadaan dorang pe keluarga di Jakarta. Nyanda lama kong tu Apo  bilang, ‘Tu ngoni pe keluarga di Jakarta bae-bae samua. Cuma, dorang pe anak satu so meninggal.’ Serta depe minggu di muka memang dorang dapa brita klu dorang pe sudara di Jakarta da mati akang anak. Abis itu, torang pe rombongan pulang ka Tondei. Di jalan di Tomohon ada orang yang mo coba-coba pa tete Tertius. Dia rencana jaha. Dapalia kasana tu orang itu korang main-main abu di tana. Korang sama deng adeade. Kong dorang kata tanya pa tete Tius kyapa bagitu. Tete cuma bilang, jangan tegor nanti tete Tius yang tegor.”
Kesunyian di kebun terpecah lagi begitu cerita aku sudahi. Matanei begitu terhibur. Tak berapa lama kemudian dia pun berhenti. Pekerjaan selesai. Aku tercengang ketika menyadari bahwa ratusan buah kelapa telah dikuliti bersamaan dengan penuturan cerita demi cerita yang aku uraikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar