oleh Iswan Sual
“Mereka tidak percaya dengan cerita-cerita kepahlawan tou Minahasa yang dipenuhi dengan mistik. Mereka menganggap itu sebagai kebohongan besar. Akan tetapi, begitu kami memberi bukti, mempertontonkan kesaktian warisan leluhur, mereka bilang sesat dan kekuatan dari setan. Teringat olehku sebuah cerita dalam Injil ketika Yesus banyak melakukan mujizat. Para pemuka dan tokoh Israel menuduh Yesus telah kerasukan Setan. Dia dianggap menggunakan kuasa penghulu setan, beelsebul,” kata Matanei suatu malam ketika kami baru saja selesai dengan pekerjaan-pekerjaan Ma’kopra.
Punggungku
kubaringkan di gundukkan gonofu yang
masih basah. Seharian kami mengupas kulit kelapa. Noda-noda kulitnya menempel
tebal di tanganku. Matanei masih berdiri dengan sebuah kelapa di tangannya. Di
depannya terdapat sebuah tiang lewang
yang tajam. Yang bila tak hati-hati akan menusuk jantungnya bila terpeleset
karena tidak hati-hati. Matanei adalah orang tekun dan telaten dalam
pekerjaan-pekerjaan demikian. Kadang-kadang juga dia menjadi tukang gula aren. Terpaksa
tahun ini dia melakoni pekerjaan sebagai ma’kopra karena tak ada lagi yang mau
mengerjakannya. Banyak pria lebih memilih menjadi pekerja di luar wanua
lantaran harga kopra telah jatuh. Buah-buah kelapa yang kami kuliti sebagian
besar telah bertumbuh dan berkecamba. Dagingnya telah menipis dan ringan.
Otomatis hasilnya tidak pulangongkos dengan
tenaga dan waktu yang dikeluarkan. Tapi bagi Matanei meski harga kopra telah
menukik ke tanah, kelapa harus diolah. Dia meyakini bahwa harga kopra yang
rendah mengajarkan kami tentang penghematan memakai uang. Sebaliknya harga
kopra yang tinggi justru mengajarkan orang untuk menjadi tukang boros dan
dengan entengnya menghambur-hamburkan uang demi hal atau barang yang tidak
perlu.
“Alo, kase
cirita kamari pa kita tentang ngana pe Apo-apo. Tu cirita itu mo beking kita
lebe tamba smangat bakerja. So banya yang kita dengar mar, sapa tau ada tu blum
kita tau,” kata Matanei sembari mendorong dan menarik kulit buah kelapa yang
telah tertancap pada lewang.
Matahari
memang sudah agak tegak berdiri. Rasa lapar belum datang. Barangkali ubi rebus
santan dan winongos yang kami konsumsi tadi pagi cukup memberi
kami energi untuk bertahan hingga sore nanti. Tambah lagi, tombong juga tak luput dari mulut kami berdua. Buah di dalam buah
itu berbentuk roti dengan daging yang manis turut menyumbang kekuatan.
“Alo, angko
so perna dengar tu cirita Apo Tius deng tete Limpele?” kataku dengan penuh
semangat.
“Yang kita
dengar tu tete Limpele da dapa pegangan dari Tete Tius Sual no. Mar, kita
nyanda tau tu cirita-cirita laeng.” Begitu tahu Matanei belum pernah mendengar
cerita itu aku langsung bersemangat untuk bertutur.
“Dulu kata
perna tete Limpele dapa berita dari Motoling kalu dia musti sampe disana
pagi-pagi. No, waktu itu kan jalang kasana blum bagus. Kong masi banya tu
yaki-yaki ja badola. Pokoknya nyanda aman kalu mo bagelap mo kasana. Tete
Limpele tau biar alasan apa tu mo kase tetap depe atasan nyanda mo trima itu.
Ya karena dia so abis akal, ya dia pigi pa tete Tius Sual kong minta tulung.
Setelah tete so bilang tu perlu tete Tius Sual bagini kamari, ‘Sa ko an
tempokem in do’ong, icili’im mange. Kalu so di ujung kampung, kasetidor jo tu
mata. Se tutu jo kata tu mata.’ Pagi-pagi kata tete Limpele so basiap kong
langsung bajalang. Pe sampe di ujung kampung dia kasu tutu kasana tu mata. Dia
pe buka kamari tu mata dia so dudu di dalam ruangan rapat di Motoling.”
Mendengar
ceritaku Matanei tertawa terkagum-kagum. Mata-matanya bercahaya. Mirip
anak-anak yang baru saja mendengar dongeng sebelum tidur. Demi memuaskannya
kuulang-ulang lagi cerita itu, dengan uraian kata-kata lain. reaksinya setelah
selesai kupaparkan cerita itu tetap sama. Dia tertawa-tawa penuh kebanggaan
kepada kehebatan pengetahuan yang
dilakonkan oleh tete Limpele. Minggu lalu juga kuceritakan tentang seorang mamuis yang tertangkap oleh Apo Hero
Timporok. Mamuis itu kepergok oleh seorang nenek di kebun Aser ketika sedang
memanjat pohon pepaya. Mamuis itu kelaparan ketika berusaha masuk ke kampung kami
untuk mencari mangsa. Karena sedang getol-getolnya pemerintah membangun, jadi
para mamuis berkeliaran mencari
kepala manusia untuk dijadikan tumbal pendirian jembatan. Si nenek yang
memergok si mamuis berlari ketakutan ke kampung sambil berteriak. Para tetua
kampung pun turun tangan. Apo Tertius dan Apo Hero memimpin pencarian mamuis. Kedua Apo mengendus lokasi
terakhir mamuis. Namun begitu tiba di
lokasi dia tak terlihat. ‘Si Hero ke’ mengat sia. Hero saja yang akan
mencarinya’. Akhirnya si mamuis
ditangkap. Dia diberi makan dan diperingatkan untuk tidak mengikuti niatnya
mencari kepala manusia di kampung kami. Dia pun dilepas hidup-hidup. Padahal
biasanya mamuis yang tertangkap tak
pernah akan dibiar berkeliaran.
“Ada lei?
“Ada! Pernah
dorang Apo Tius Sual bajalang kaki ka Tondano. Dorang pigi bakudapa dengang
nene. Tu nene itu apo-apo ja maso akang. Ada satu orang yang kurang percaya tu
babagitu da iko sama-sama. Waktu dorang so di dalam ruma. Tu acara langsung
mulai. Kong heran. Tu acara sama skali deng ibada Kristen. Ada depe doa awal
deng ahir. Kong ja manyanyi tu taling-taling, lagu-lagu Kristen jaman dulu. Ada
kata tu ja bicara nyanda ja dapalia. Tu orang yang kurang percaya itu tarutaru
kira. Ternyata bukang nene tu ja bicara. Karna lengkali ja tasamasama. Depe
heran deng tu suara yang depe orang nyanda ja dapalia itu lancar skali manyanyi
taling. Kong dorang-dorang ja babajawab no kalu tu apo-apo yang nda ja dapalia
itu ja bicara deng kase hormat. Lengkali ja batanya, ‘Ro’na aku temowaku’?Bila
kita mo baroko? Ro’na aku temenga’? bole kita mo makang pinang?’ Kong datang
deng pulang ja hormat dan minta permisi. Lengkali tu nene yang jadi perantara
ja dapa mara deri tu apo-apo lantaran masi kata ja bicara so susung bicara. Tu orang
yang nyanda percaya itu penasaran. Akhirnya dia coba batanya tentang keadaan
dorang pe keluarga di Jakarta. Nyanda lama kong tu Apo bilang, ‘Tu ngoni pe keluarga di Jakarta
bae-bae samua. Cuma, dorang pe anak satu so meninggal.’ Serta depe minggu di muka
memang dorang dapa brita klu dorang pe sudara di Jakarta da mati akang anak.
Abis itu, torang pe rombongan pulang ka Tondei. Di jalan di Tomohon ada orang
yang mo coba-coba pa tete Tertius. Dia rencana jaha. Dapalia kasana tu orang
itu korang main-main abu di tana. Korang sama deng adeade. Kong dorang kata
tanya pa tete Tius kyapa bagitu. Tete cuma bilang, jangan tegor nanti tete Tius
yang tegor.”
Kesunyian
di kebun terpecah lagi begitu cerita aku sudahi. Matanei begitu terhibur. Tak
berapa lama kemudian dia pun berhenti. Pekerjaan selesai. Aku tercengang ketika
menyadari bahwa ratusan buah kelapa telah dikuliti bersamaan dengan penuturan
cerita demi cerita yang aku uraikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar