oleh
Iswan Sual
Elok dan memikat. Bukan cuma satu atau tiga. Tetapi ada lima air
terjunnya. Bukan main. Lokasinya pun terlampau dekat dari ibu kota
propinsi. Dekat dengan beberapa kota di tanah Minahasa. Akses dan
medannya tak sulit. Tapi masih sedikit yang tahu tentang keberadaan
situs surga ini. Mereka, tou Tinoor, menyebutnya air terjun Tekaan Telu.
Awalnya saya mendengar tempat ini dari ngobrol santai di Soputan dengan
seorang pedaki dari Sonder bernama Skipen. Dia bertutur bahwa tempat
itu indah dan ramai dikunjungi orang. Aku pun jadi tertarik dengan
uraiannya dan mencoba memuaskan hasrat untuk melihatnya. Setelah terjadi
kesepakatan di sebuah dinding grup media sosial, kami bertiga (Della
Palapa, Yanli Sengkey dan Saya) pun berangkat pada 17 Mei 2014 dengan
bus Tondano-Manado menuju situs yang terletak dekat dengan desa Tinoor.
Kami berpikir hanya kami bertiga dari Komunitas Pecinta Alam Tumondei
(KPAT) yang akan menjadi penikmat keelokkan alami air terjun itu.
Rupanya kesimpulan kami keliru. Di tengah perjalanan, di atas bus, aku
menerima telpon dari Jufri Mogogibung, katanya, dia bersama Charles
Mogogibung, sedang dalam perjalanan menuju Tondano. Mereka terjebak
hujan di Amurang. Yanli pula menerima panggilan telpon yang memberitahu
bahwa temannya, David dan Septian tengah dalam perjalanan.
| Merayakan penakhlukan air tejun Tekaan Telu, Tinoor |
| Add caption |
| Komunitas Pecinta Alam Tumondei (KPAT) |
Semangat kami langsung membuncah tatkala mendengar kabar dari ketua
kami itu. Walaupun harus menunggu kurang lebih dua jam, kami tetap harus
tiba di lokasi bersama dengan orang itu. Kami putuskan untuk menunggu
di sebuah pangkalan ojek yang terletak di jalan masuk ke desa Tinoor.
Kami membunuh waktu dengan diskusi, bercanda dan membaca buku. Dua orang
yang sudah ke lokasi bertemu kami saat mau kembali menambah logistik.
Kamu bercakap mesrah dengan mereka.
Di sebuah pos kami menunggu dua orang yang tengah menuju kami. Pas itu
kurang lebih 100 meter dari pangkalan ojek. Begitu Jufri dan Charles
turun turun dan menyapa kami, perjalanan singkat pun kami ambil. Ta
sampai 5 menit kami sudah tiba di area yang disebut base camp. Nampak
area telah penuh oleh tenda. Suasana pun ribut. Untung ada dua tenda
yang barus dibongkar. Mungkin sekitar 30 menit sebelum kami tiba. Jadi,
ruang kosong itu kami gunakan. Tendaku dan tenda baru Jufri didirikan
berdampingan. Satunya berwarna hijau dan satunya lagi berwarna oranye.
Mirip warna logo organisasi kami.
Malam terlewatkan tanpa sedikit pun keheningan tersisa. Beberapa orang
bicara sangat keras lantaran telah dipengaruhi minuman beralkohol. Tapi,
aku tetap betah. Dan tak ingin pulang segera. Paginya sekitar jam 8,
kami berangkat menuju air terjun. Dari base camp itu kami harus menuruni
tebing yang curam. Terpeleset sedikit resikonya maut. Kira-kira 100
meter jauhnya. Tangan dan kaki harus kuat dan cekatan menahan berat
badan dan menjaga keseimbangan.
Air terjun pertama terletak tepat di ujung tebing. Sungguh indah. Air
terjun selanjutnya terletak kurang lebih 300 meter dari air terjun
pertama. Kami harus berjalan menyusuri sungai untuk tiba di sana.
Sayangnya, sungai itu penuh dengan sampah. Kalau tidak, aku akan dengan
suka rela mencebur diri di dalamnya. Begitu kami tiba, kelompok kami
tiba pertama di tempat itu, kelompok-kelompok lain secara berturut
menampakkan diri. Kami pun beranjak sembari cepat-cepat mengabadikan
gambar-gambar.
Kami masih tinggal beberapa waktu sesudah sampai di tenda. Tak perlu
buruh-buruh. Kami mulai pulang ketika hari belum terlalu sore. Kami
berhasil mendapat tumpangan gratis di mobil open cap berwarna hitam
sampai Tomohon. Di Tomohon kami menunggu hingga malam. Mobil open cap
membawa kami ke Tataaran saat angin dingin mulai menusuk tulang.
Cerita ini tidak berlebihan. Malahan banyak kekurangan. Ada peristiwa
penting dan indah lainnya yang mungkin tak terbeberkan. Tapi, paling
tidak, aku telah bercerita tentang keelokkan air terjun yang mereka
sebut Tekaan Telu itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar