Judul :
Tinondeian
Penulis :
Iswan Sual
Penerbit :
The Humanizer College
Tahun terbit : 2012
Ukuran :
19 X 14 cm
Tebal :
330 halaman
Sastra
di tanah Toar Lumimuut sepuluh tahun terakhir mengalami pertumbuhan yang
cukup menggembirakan. Banyak karya telah diterbitkan di kancah nasional maupun
kancah regional. Namun, yang menarik adalah maraknya penerbitan-penerbitan buku
secara independen alias diterbitkan oleh penulis sendiri lewat lembaga lokal.
Umumnya terbitan itu berupa buku-buku kumpulan puisi. Hanya sedikit, bahkan
sangat jarang, dalam bentuk cerpen atau novel.
Buku ”Tinondeian: Sebuah Novel Karya Tou
Minahasa” yang ditulis oleh Iswan Sual adalah salah satunya. Novel ini
beraliran realis. Berkisah seorang bernama Toar yang lahir di Tondei, sebuah
desa di selatan Minahasa. Seperti
kebanyakan pemuda di jaman moderen Minahasa, Toar dibesarkan oleh keluarga yang
memegang teguh prinsip kekristenan. Persentuhannya dengan dunia kampus,
Universitas Negeri Manado, membuat dia berubah drastis. Hal ini dipengaruhi
oleh keterlibatannya dalam pergaulan sesama aktivis Mahasiswa dan kekecewaan
pada dosen yang pada awalnya dia jadikan sebagai panutan. Dia pun menjadi
seorang ateis dan sangat anti gereja. Dalam hal percintaan pun dia menjadi
dingin dan menjadi tak percaya
dengan kesetiaan Tineke, pacarnya.
Tokoh Tineke adalah gambaran wewene
Minahasa zaman sekarang yang hanyut oleh arus aliran globalisasi. Dari luar
kelihatan taat terhadap nilai-nilai agama. Padahal pada prakteknya dia sangat
jauh dari nilai-nilai itu. Dia akhirnya lambat laun sadar akan kenyataan bahwa
Toar takkan sanggup memenuhi kebutuhannya.
Dia pun sengaja menceburkan diri dalam hubungan gelap dengan seorang
dekan demi memenuhi tuntutan gaya hidup kekinian.
Iman Toar kembali ditemukan (Tinondeian)
tatkalah adiknya, Hanstien, mendapat musibah. Toar merasa apa yang menimpa
Hanstien merupakan akibat dari sikapnya yang sangat sinis dan ateistik. Dia
pulang ke kampungnya dan kembali memeluk nilai-nilai lama yang telah surut.
Yang menarik dari novel ini adalah
kehebatan penulis mengombinasikan antara gagasan cita-cita keminahasaan, dan
kegagalan gereja lokal untuk menjadi
panutan dalam menyampaikan suara kenabian. Novel ini menguak pula
kebusukan dunia kampus. Lembaga produsen
pendidik dan cendekiawan.
Membaca novel ini seakan pembaca turut
serta masuk ke dalam dunia kampus dan menyaksikan suatu dunia yang ternyata
sarat dengan penyelewengan dan kekontrasan. Dunia kampus yang seharusnya
menjadi pusat kebudayaan, malah menjadi pusat kebiadaban lantaran perilaku
dosen-dosen yang tak mampu memberi
teladan. Tambah lagi, perilaku mahasiswa hidup bersama tanpa ikatan legal
seolah telah lumrah. Padahal mereka selalu disanjung-sanjung tatkalah berada di
tengah-tengah masyarakat.
Kepedulian Iswan Sual dalam mengembangkan
sastra Minahasa nampak dari kesungguhan dan keteguhannya memasukkan banyak
kata-kata bahasa Melayu Manado dan
Tontemboan ke dalam dialog-dialog dan monolognya. Juga menjadikan tanah
Minahasa sebagai latar belakang peristiwa demi peristiwa. Ini membuat pembaca
dibawa ke tempat-tempat yang dikenal. Ini menunjukkan penulis novel ini
memiliki misi untuk menjadikan bahasa Manado sebagai bahasa sastra di atas
kertas. Tidak hanya bahasa tutur.
Novel ini adalah satu-satunya novel yang
pernah terbit, selain ”Bintang Minahasa” karya H.M. Taulu dan ”Waraney Negeri
Minahasa” karya Fary SJ Oroh, yang sangat kental dengan situasi dan pemikiran
tou Minahasa. Novel ini merupakan tamparan bagi sastrawan kawakan yang sudah
menasional tapi masih enggan untuk kembali pulang (tumondei) dan mengembangkan
sastra di tanah leluhurnya.
Buku ini layak dibaca oleh pecinta sastra
Minahasa karena mencerminkan serta menggambarkan pola pikir generasi Minahasa
sekarang. Selain itu buku ini merefleksikan secara kritis lembaga pendidikan
tinggi dan agama saat ini. Bukanlah kebetulan tokoh utama diberi nama Toar oleh
penulis novel ini. Toar dalam ”Tinondeian” mewakili masyarakat Minahasa pada
umumnya. Jadi, dengan lain perkataan, sang penulis mau berkata, ”Inilah cerita
tentang kita yang sudah di ujung tanduk. Maka, jangan tidur. Bangunlah dan
sadarlah!”
Novel ini sejatinya adalah sebuah kritik
sosial. Kritik terhadap Minahasa. Kritik terhadap kita semua. Novel ini
seyogyanya menjadi cermin bagi kita agar tak semakin jauh terperosok ke dalam
ngarai kelam.
Semoga kita memperoleh kenikmatan dan
pencerahan dari novel yang lahir dari tangan sastrawan muda yang berasal dari
Minahasa Selatan ini. Dan semoga catatan ini bermanfaat bagi pembaca sekalian.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar