Kamis, 20 Maret 2014

Kebangkitan Prosa Minahasa




Oleh Petrus Ngasan


Judul                                   : Tinondeian
Penulis                                   : Iswan Sual
Penerbit                                 : The Humanizer College
Tahun terbit                            : 2012
Ukuran                                   : 19 X 14 cm
Tebal                                      : 330 halaman



Sastra  di tanah Toar Lumimuut sepuluh tahun terakhir mengalami pertumbuhan yang cukup menggembirakan. Banyak karya telah diterbitkan di kancah nasional maupun kancah regional. Namun, yang menarik adalah maraknya penerbitan-penerbitan buku secara independen alias diterbitkan oleh penulis sendiri lewat lembaga lokal. Umumnya terbitan itu berupa buku-buku kumpulan puisi. Hanya sedikit, bahkan sangat jarang, dalam bentuk cerpen atau novel.
Buku ”Tinondeian: Sebuah Novel Karya Tou Minahasa” yang ditulis oleh Iswan Sual adalah salah satunya. Novel ini beraliran realis. Berkisah seorang bernama Toar yang lahir di Tondei, sebuah desa  di selatan Minahasa. Seperti kebanyakan pemuda di jaman moderen Minahasa, Toar dibesarkan oleh keluarga yang memegang teguh prinsip kekristenan. Persentuhannya dengan dunia kampus, Universitas Negeri Manado, membuat dia berubah drastis. Hal ini dipengaruhi oleh keterlibatannya dalam pergaulan sesama aktivis Mahasiswa dan kekecewaan pada dosen yang pada awalnya dia jadikan sebagai panutan. Dia pun menjadi seorang ateis dan sangat anti gereja. Dalam hal percintaan pun dia menjadi dingin dan menjadi tak percaya dengan kesetiaan Tineke, pacarnya.
Tokoh Tineke adalah gambaran wewene Minahasa zaman sekarang yang hanyut oleh arus aliran globalisasi. Dari luar kelihatan taat terhadap nilai-nilai agama. Padahal pada prakteknya dia sangat jauh dari nilai-nilai itu. Dia akhirnya lambat laun sadar akan kenyataan bahwa Toar takkan sanggup memenuhi kebutuhannya.  Dia pun sengaja menceburkan diri dalam hubungan gelap dengan seorang dekan demi memenuhi tuntutan gaya hidup kekinian.
Iman Toar kembali ditemukan (Tinondeian) tatkalah adiknya, Hanstien, mendapat musibah. Toar merasa apa yang menimpa Hanstien merupakan akibat dari sikapnya yang sangat sinis dan ateistik. Dia pulang ke kampungnya dan kembali memeluk nilai-nilai lama yang telah surut.
Yang menarik dari novel ini adalah kehebatan penulis mengombinasikan antara gagasan cita-cita keminahasaan, dan kegagalan gereja lokal untuk menjadi  panutan dalam menyampaikan suara kenabian. Novel ini menguak pula kebusukan  dunia kampus. Lembaga produsen pendidik dan cendekiawan.
Membaca novel ini seakan pembaca turut serta masuk ke dalam dunia kampus dan menyaksikan suatu dunia yang ternyata sarat dengan penyelewengan dan kekontrasan. Dunia kampus yang seharusnya menjadi pusat kebudayaan, malah menjadi pusat kebiadaban lantaran perilaku dosen-dosen yang  tak mampu memberi teladan. Tambah lagi, perilaku mahasiswa hidup bersama tanpa ikatan legal seolah telah lumrah. Padahal mereka selalu disanjung-sanjung tatkalah berada di tengah-tengah masyarakat.
Kepedulian Iswan Sual dalam mengembangkan sastra Minahasa nampak dari kesungguhan dan keteguhannya memasukkan banyak kata-kata bahasa Melayu Manado  dan Tontemboan ke dalam dialog-dialog dan monolognya. Juga menjadikan tanah Minahasa sebagai latar belakang peristiwa demi peristiwa. Ini membuat pembaca dibawa ke tempat-tempat yang dikenal. Ini menunjukkan penulis novel ini memiliki misi untuk menjadikan bahasa Manado sebagai bahasa sastra di atas kertas. Tidak hanya bahasa tutur.
Novel ini adalah satu-satunya novel yang pernah terbit, selain ”Bintang Minahasa” karya H.M. Taulu dan ”Waraney Negeri Minahasa” karya Fary SJ Oroh, yang sangat kental dengan situasi dan pemikiran tou Minahasa. Novel ini merupakan tamparan bagi sastrawan kawakan yang sudah menasional tapi masih enggan untuk kembali pulang (tumondei) dan mengembangkan sastra di tanah leluhurnya.
Buku ini layak dibaca oleh pecinta sastra Minahasa karena mencerminkan serta menggambarkan pola pikir generasi Minahasa sekarang. Selain itu buku ini merefleksikan secara kritis lembaga pendidikan tinggi dan agama saat ini. Bukanlah kebetulan tokoh utama diberi nama Toar oleh penulis novel ini. Toar dalam ”Tinondeian” mewakili masyarakat Minahasa pada umumnya. Jadi, dengan lain perkataan, sang penulis mau berkata, ”Inilah cerita tentang kita yang sudah di ujung tanduk. Maka, jangan tidur. Bangunlah dan sadarlah!”
Novel ini sejatinya adalah sebuah kritik sosial. Kritik terhadap Minahasa. Kritik terhadap kita semua. Novel ini seyogyanya menjadi cermin bagi kita agar tak semakin jauh terperosok ke dalam ngarai kelam.
Semoga kita memperoleh kenikmatan dan pencerahan dari novel yang lahir dari tangan sastrawan muda yang berasal dari Minahasa Selatan ini. Dan semoga catatan ini bermanfaat bagi pembaca sekalian.
***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar