oleh Iswan Sual, S.S
[Sebuah Catatan Laporan Perjalanan]
Kira-kira pukul 10.30 rombongan Pemuda GMIM “Bukit Moria”
Tondei Satu meninggalkan desa Tondei Satu menuju ke Tetewatu. Umumnya kami
pergi dengan berjalan kaki alias naik mobil debe 11. Dengan langkah santai kami
melewati jalan berbecek yang ditinggalkan begitu saja oleh pekerja-pekerja
proyek. Garis-garis garukan nan rapih
eskavator, yang membentuk dinding sisi
atas jalan, tak terelakan kami perhatikan seraya berharap supaya proses
penyelesaian proyek itu dipercepat.
Setelah menapaki jengkal demi jengkal tanah yang
begitu lapang, sampailah kami di Lumopa atau sering disebut juga Lopa’na.
Rumah-rumah panggung menjadi mayoritas di dusun 5 itu. Tampak sudah ada 3 rumah
mewah berdiri tegak. Yang kami jumpai pertama adalah rumah besar berlantai 2 milik
mantan Hukum Tua K. Lumapow. Rumah berlantai 2 yang kedua dan ketiga (saling
berhadapan) adalah milik dari 2 orang bernama sama. San, nama mereka. Yang
satunya bermarga Limpele dan satunya lagi bermarga Lumowa. Dua marga yang cukup
fenomenal di Tondei Raya. Dua marga itu melahirkan tokoh-tokoh masyarakat yang
cukup berpengaruh dalam peradaban di desa Tondei Raya. Beberapa langkah dari
dua rumah besar dengan motif modern itu adalah persimpangan jalan. Yang satu
menuju Ongkau dan satunya lagi menuju Tiniawangko. Rombongan jalan di sebelah
kanan, jalan menuju ke Tiniawangko. Perjalanan rombongan menjadi
tersendat-sendat karena kami saling menunggu anggota yang lain yang masih di
garis belakang. Yang bersepeda motor telah mendahului yang berjalan kaki. Kami
bersepakat ditunggu di Pa’gula’angnya Epong Gerung.
Pekikan khas orang Tondei terdengar keluar dari
mulut para pria yang sengaja dikeluarkan untuk membuat suasana menjadi ramai
dan bersemangat. Kami menikmati pemandangan rentetan pohon kelapa dan cengkih
di pinggir jalan yang kami lewati. Kami menyadari bahwa ternyata Tondei
memiliki kekayaan yang berlimpah.
Sang pemimpin rombongan berkata pada
rekan-rekannya bahwa sebenarnya yang menjadi salah satu tujuan dari perjalanan
kami ke Tetewatu adalah untuk membuat para orang muda insaf akan potensi
alamnya dan mengetahui letak dan batas-batas tanah yang telah dikerjakan oleh
para leluhur ratusan tahun lampau. Tujuan perjalanan lainnya adalah membuat
kita lebih mengenal keadaan dari tanah yang menjadi milik orang Tondei untuk
memberitahu kepada kita bahwa orang tua kita dulunya adalah pekerja keras
sehingga mampun merombak hutan untuk lahan pertanian demi masa depan
anak-cucunya.
Kami melewati beberapa anak sungai dengan nama Kaluntai,
Ranotelu dan sungai kecil bernama Tetewatu dan Punti. Namun tujuan kami adalah
situs alami yang disebut Tetewatu. Kami harus mengambil jalan memutar melewati
perkebunan Aser dan Pilar. Kami harus menuruni lereng yang terjal dan berjalan
mengikuti aliran sungai sehingga tak jarang kami terpeleset, tertusuk duri dan
terpukul pada batu-batu kuala. Awalnya
kami merasa telah mengambil jalan yang salah dan tersesat sehingga wajah-wajah
anggota rombongan mulai nampak kecewa dan menyalahkan si Aldi (Ading) Gerung
yang bertindak sebagai penunjuk jalan. Butuh setengah jam untuk menyusuri
sungai Tetewatu hingga sampai ke situs yang kami tuju. Badan kami yang basah
kuyub oleh guyuran hujan dan percikan air saat kami tercemplung dalam genangan
yang dalam tidak menghalangi kerinduan kami melihat situs yang ditemukan
pertama kali oleh pemburu katak dan udang tersebut. Senyum mulai terlihat di
sudut bibir kami ketika melihat situs yang menyerupai pintu gerbang sungai itu.
Ya itulah yang disebut Tetewatu. Ternyata situs itu memang cocok dinamakan Tetewatu
karena diantara dua dinding batu bagian atas terdapat balok batu yang lempar yang membentuk seperti seperti
konstruksi jembatan. Perkebunan Punti dan
Pilar yang dipisahkan oleh aliran sungai dihubungkan oleh balok batu
itu. Orang dari arah Punti bisa
menyeberang ke perkebunan pilar tanpa harus basah karena terkena air sungai.
Gejala alam itu sungguh luar biasa.
Menurutku, Tetewatu tercipta oleh dorongan aliran
air sudah berlangsung sangat lama. Menurut teoriku, dahulunya jarak antara
dinding yang satu dengan dinding di sisi lain tidak selebar sekarang. Kini
lebarnya cukup untuk sebuah mobil memasukinya semisal aliran itu adalah jalan.
Tinggi dindinyapun tidak setinggi sekarang. Dulu, pasti air mengalir di atas
balok batu yang melintang itu. Karena erosi, bagian bawah balok batu itu
menjadi berlubang semakin lama semakin membesar. Tentu proses itu memakan waktu
yang lama dengan deras air yang kuat.
Fenomena alam yang unik itu membuat orang
takjub. Situs alam yang bernama Tetewatu itu bisa menambah perbendaharaan situs
bernilai di desa bahkan di kabupaten Minahasa Selatan. Situs ini bisa menjadi
tujuan wisata alternatif. Umumnya pantai selalu menjadi tujuan wisatawan. Bagi
yang sudah bosan dengan yang berbau pantai dan ingin menikmati suasana baru di
pegunungan, maka Tetewatu adalah tempatnya.
Saya sarankan agar pihak yang berkompeten berupaya
membuat agar akses ke situs ini menjadi mudah. Minimal, jalan orang dibuat
sehingga semakin mempermuda pula orang untuk sampai ke situs alam itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar